Muhammad Sallallahu ‘alaihi Wasallam. Nama yang begitu mulia, kejujuran, keramahan, kerendahan hati, kasih sayang beliau begitu menyentuh seluruh umatnya mulai dari anak-anak, orang dewasa, sahabat-sahabat, janda-janda, fakir miskin, anak yatim, kaum dhuafa, kaum tertindas, orang-orang badui, bahkan terhadap musuh sekalipun beliau selalu menebar kasih sayangnya.
Muhammad Sallallahu ‘alaihi Wasallam. Nama yang begitu mulia, harum namanya begitu semerbak tidak lekang oleh zaman, cahaya hatinya begitu menerangi sendi-sendi kegelapan jaman zahiliah, risalahnya menyejukkan kegersangan hidup perilaku zahiliah laksana air penghapus dahaga penyentuh qolbu.
Muhammad Sallallahu ‘alaihi Wassalam. Nama yang begitu mulia, Jutaan bibir mengucapkan salawat setiap harinya, detak jantung orang mengiringi ucapan keselamatan padanya, denyut nadi mengharapkan keberkahan untuk diri rasulnya yang mulia. Do’a dan harapan terpatri dalam diri terukir dalam hati umatnya, mengharapkan pertemuan dengan Rasulnya di alam surga yang hakiki.
Muhammad Sallallahu ‘alaihi Wassalam. Nama yang begitu mulia, kemuliaannya menembus batas waktu sejak lebih dari seribu empat ratus tahun yang lampau. Kemuliaannnya melintasi samudera dan benua. Dari sebuah Jaziraah Arab yang gersang dan tandus melintasi laut dan samudera biru, menjelajahi benua Afrika, Asia, Eropa, bahkan Amerika. Dan sampai sekarang umatnya selalu mengucapkan salawat kepadanya di setiap akhir rakaat salat, tidak peduli umatnya berada di belahan dunia manapun. Di Mekkah, Madinah, Baghdad, Islamabad, Kuala Lumpur, Jakarta, Seoul, Tokyo, Moskow, Roma, London, Washington, Buenos Arires, Santiago bahkan di kutub selatan dan utara selama ada umatnya mereka akan terus mengucapkan nama yang begitu mulia, sampai akhir zaman.
Akhirnya tiada kalimat yang saya lantunkan selain kerinduan padamu ya.. rosulullah…
Ya nabi.. salam ‘alaika
ya rosul salam ‘alaika
ya habib salam ‘alaika
solawattulloh ‘alaika
Kenzi Al-Khalid/Gugum Ariandi