Untukmu yang terbaik, ibunda…

La Tahzan yaa ummi… (jangan bersedih ibunda…). Karena ternyata islam begitu memuliakanmu.

Mengenang kebaikan ibunda bagaikan memutar film terbaik yang tak pernah berakhir. Seperti cerita hikmah yang sangat panjang, terhiasi oleh untaian cinta yang tidak ada putus-putusnya, mengalirkan kasih sepanjang jalan. Episodenya dimulai dengan kerelaan, keikhlasan dan kesabaran selama 9 bulan mengandung. Dalam pandangan Allah pahalanya mungkin setara dengan seorang prajurit yang sedang berpuasa sambil berperang di Jalan Allah swt.

Ketika melahirkan ananda perjuanganmu begitu dahsyat, seperti meregang nyawa antara derita sakitnya neraka. Namun bunda tersenyum bahagia manakala ananda lahir ke dunia dengan selamat. Rasa sakit terhapus berganti bahagia tatkala mendengar jeritan sang bayi. Senyummu terukir, seolah-olah mendapatkan hadiah dari Sang Pemilik Surga.

Beranjak balita ketika ananda menangis, bundalah yang selalu menyediakan pelukan hangat untuk membuatku merasa nyaman. Engkau selalu menyempatkan waktu menemani diriku ketika aku sakit. Dan bukankah engkau juga tidak rela bila ada satu nyamuk yang menggigit tubuhku ketika aku tertidur dalam pulasku, bunda…

Duhai ibunda, karena pengorbananmu yang sangat besar, sampai-sampai Allah membuat aturan yang sempurna dalam firman-Nya. Bagaimana Allah memuliakanmu, menyuruh diri-diri ananda menghormati ibu/orang tua. (Q.S Luqman:14), (Q.S An-Nisa:36), (Q.S Al-Ahqof:15), (Q.S Al-isra 23-24), (Q.S Al-Anam:151). Tidak cukup itu, Rasul pun bersabda bahwa yang pertama-tama harus ananda hormati adalah engkau, ibunda. Bahkan tiga kali beliau sebut engkau, baru kemudian ayahanda. Banyak hadist yang membahas tentangmu ibunda, dan bukankah Rasul pun pernah bersabda dalam satu hadist dengan kalimat kiasan: “Surga berada di telapak kaki ibu”.

Banyak… sungguh teramat banyak cinta ibunda yang melahirkan kisah-kisah teladan. Telah engkau hadirkan ulama-ulama besar seperti Imam Abu Hanifah, Imam Syafi’i, Imam Ahmad bin Hambal, Imam Bukhari. Masih banyak lagi. Semua terpoles oleh didikan para ibunda sebagai madrasah pertama.

Duhai ibunda…
Maafkan jika mata ini pernah sinis memandang, lidah yang pernah terucap kasar hingga membuat luka hatimu. Maafkanlah pula kalau kesibukan ananda menghalangi do’a terhatur untukmu. Ampuni diri ananda yang tak pernah bisa membahagiakanmu, ibunda…

Sungguh, jiwa dan jasad ini ingin terbang menjulang ke angkasa lalu luruh di pangkuanmu, menangis bersimpuh di hadapanmu. Hingga terhapuskan kerinduan hati mengalirkan bulir-bulir bening di sudut mata sebagai tanda pengakuan atas kasih sayangmu.

Duhai ibunda…
Seberat apapun, sebanyak apapun amal ini tak akan mampu imbangi jasa-jasamu. Sel-sel darah yang mengalir di nadiku, irama detak jantungku, desahan setiap nafas, rambut yang terurai di badanku. Semuanya adalah saksi bisu atas kebaikanmu. Semoga semua amal kebaikanmu terhadap ananda jadi pemberat timbangan amal kebaikanmu di akhirat. Ah, begitu indahnya pengorbananmu. Indah… semua indah dalam alunan cintamu, menelisik lorong-lorong hati dan jiwa yang rindu kasih sayangmu.

Duhai ibunda…
Bukalah pintu ridhomu, hingga Allah pun meridhoiku
Ananda do’akan semoga ibunda tetap jadi wanita yang mulia, jadi wanita yang bertakwa, dan selalu menjalankan perintah agama agar kelak menjadi bidadari-bidadari penghuni surga. Amin…
Untukmu yang terbaik, ibunda…
Wallahu a’lam

Kenzi Al-Khalid

Say your words