Bismillahirrahmanirrahim
ba’da tahmid wassholawat.
Berapa umur Anda sekarang? Ayo hitung lagi… lihat di KTP tahun berapa kita lahir? Setelah kita mengetahui umur biologis/KTP, sekarang coba kita hitung berapa umur ma’nawi kita. Berapa waktu kita yang digunakan untuk beribadah ? Aduh, berapa ya? Aih… aih.. jadi malu… kata Imam Ghazali sih untuk tidur saja kita menghabiskan waktu 20 tahun. Wuah… katanya mengharap surga+bidadari yang jelita tapi 1/3 umur kita saja dihabiskan untuk tidur. Lha Ibadahnya kapan? Hiks hiks padahal Kalo dihitung-hitung, masing-masing waktu kita sama: 60 detik dalam 1 menit, 60 menit dalam 1 jam dan 24 jam sehari, 7 hari per pekan dan seterusnya.
Kalau dipikir-pikir, boleh jadi umur kita sudah sampai belasan tahun, puluhan tahun, atau bahkan ratusan tahun (hehe yang ini gak mungkin kale…). Tapi coba hitung dech, berapa kontribusi umur kita untuk kebaikan? Berapa lama waktu kita yang digunakan untuk Alloh sang khalik, untuk agama kita? Ah… sepertinya tidak sampe 10 tahun. Lalu bagaimana agar umur yang singkat ini bisa mencapai keabadian? Tenang saja, bisa kok.
Kamu pasti tahu dong Imam Ghazali? Umur Imam Ghazali hanyalah sekitar 55 tahun secara biologis, tapi secara ma’nawi Imam ghazali masih hidup sampai sekarang. Bahkan sampai kiamat pun namanya insya Alloh tetep hidup. Itu dikarenakan tulisan-tulisan beliau banyak dibaca umat dari zaman ke zaman. Subhanalloh… keabadian Imam Ghazali didapat dari ilmu-ilmu beliau yang dirangkum dalam kitab-kitab yang bermanfaat. Contoh lain adalah Syekh Imam Nawawi, umur Syekh Nawawi tidak lebih dari 45 tahun secara biologis tapi secara ma’nawi beliau tetap hidup sampai sekarang bahkan juga sampai hari kiamat. Karena apa? Buku atau kitab-kitab beliau dibaca, dipelajari dan diamalkan umat dari zaman ke zaman. Subhanalloh… bukankah itu suatu keabadian pahala dari tulisan?
Lalu mengapa saya berani mengatakan bahwa pahala menulis adalah pahala keabadian. kata keabadian, merujuk kepada hadits nabi tentang amal yang tiada terputus. Sesungguhnya apabila setiap anak Adam telah mati, terputuslah amalnya kecuali tiga: shodaqoh jariyah, ilmu yang bermanfaat, dan do’a anak yang sholih. Nah, setidaknya, menghasilkan tulisan masuk dalam kategori ilmu yang bermanfaat. Tulisan dapat menjadi semacam passive income (passive income merujuk kepada istilah yang digunakan Robert T Kiyosaki pada bukunya Cash Flow Quadrant. Istilah ini berarti penghasilan yang diperoleh tanpa harus bekerja, seperti deposito, reksadana dan lain-lain). Tatkala kita sudah tidak mampu beramal lagi, Allah masih mencatatkan pahala apabila tulisan kita masih menginspirasi orang lain untuk berbuat baik.
Jadi mulai saat ini, jadikan tulisan-tulisanmu menjadi penerang bagi kegelapan, pelepas dahaga bagi kehausan. Intinya jadikan dirimu bermanfaat bagi orang lain. Rosul pun bersabda yang diriwayatkan Ath-Thabrani dari Ibnu Umar ra: “Perumpamaan seorang mukmin adalah seperti sebatang pohon kurma. Apapun yang kamu ambil darinya akan memberikan manfaat kepadamu.
Jadilah seperti air yang suci menyucikan, bergerak untuk menghidupkan, mengalir untuk kebaikan, memancar dengan kekuatan, dikelola menjadi pembangkit energi dahsyat kehidupan. Itulah pilar kesuksesan, kunci kebahagiaan dengan menebar kebaikan, salah satunya lewat tulisan. Insya Alloh. Selamat berjuang untuk Ikhwah Fillah. Jadikan goresan penamu penegak keadilan, pencegah kemunkaran, penyeru kebaikan. jadikan tinta penamu pemberat amal kebaikan di yaumul hisab. Akhirul kalam. wassalam
Wallahu a’lam
Kenzi Al-Khalid