untuk sahabatku

Assalamu’alaikum.

Ini adalah surat yang ana sampaikan kepada saudara/sahabat seperjuangan. Walaupun beliau sekarang sudah berbeda ‘kendaraan’ pemikiran namun ada kewajiban bagi ana untuk saling mengingatkan dalam hal kebaikan, seperti yang tersurat dalam Q.S Al-Asr. Surat ini ana sampaikan kepada teman ana dan tidak bermaksud untuk membantah pemikiran-pemikiran beliau yang menyalahkan ana ikut dalam perjuangan syariat melalui partai. Sungguh, ana tidak merasa paling benar dan sungguh, ana sangat menghargai keputusan beliau melalui pergerakannya. Kita sama-sama memperjuangkan apa yang kita anggap sebuah kebenaran. Jadi hendaknya diantara kita tidak ada saling salah-menyalahkan, saling menghambat, namun sebisa mungkin kita saling berseinergi satu sama lain saling menguatkan. InsyaAlloh. Bagaimanapun, ini hanyalah sebuah diskusi pemikiran, yang insya Alloh sebuah diskusi sehat yang masih berada dalam koridor tanawwu (diperbolehkan) dalam islam. Insya Alloh. Berikut isi tulisan ana.

Akhifillah, dakwah di parlemen adalah sebuah ijtihad terhadap permasalahan kontemporer. Karena apa? Wilayah di parlemen dan pemerintahan sangat strategis sebagai pembuat kebijakan dimana kebijakan itu akan berpengaruh besar terhadap kehidupan kita. Tentunya Kebijakan yang kami perjuangkan adalah kebijakan yang diridhoi Allah dan melindungi hak-hak kaum muslimin indonesia. karena apa? Kebanyakan kebijakan yang ada sekarang merugikan dan membuat umat muslim Indonesia menderita, tersiksa, bahkan kehilangan hak-haknya walaupun kebanyakan orang-orang parlemen beragama islam, tapi karena sekuler, akhi sendiri tentu bisa menilai bagaimana pro tidaknya mereka terhadap islam.

Bayangkan akhi, bagaimana jadinya kalo umat ini meninggalkan wilayah yang di parlemen itu. So, relakah kita bila menyerahkan kebijakan urusan kita sendiri kepada mereka yang sekuler, phobia, bahkan benci terhadap umat islam. Relakah kita bila tiba-tiba berbagai kebijakan di parlemen sana akan menyudutkan dan memberangus kita umat islam? Misalkan, ada UU anti jilbab, UU penghapusan pelajaran agama di sekolah-sekolah dengan alasan SARA, apakah kita diam saja jika majelis taklim dan tabligh akbar dibubarkan polisi Detasemen 88 karena dilarang UU anti terorisme? Relakah kita jika masjid hanya jadi simbol belaka karena sholat dilarang, adzan dilarang, kajian-kajian islam dilarang, seminar-seminar keislaman dilarang dengan alasan membantu menyuburkan terosisme? relakah kita jika khamar dihalalkan oleh DPR/MPR? relakah kita jika pelacuran dan perjudian dilegalkan karena omzetnya yang besar untuk PAD? Relakah kita bila suatu saat media-media islam seperti Republika, SABILI, SAKSI, ANNIDA, UMMI, MQTV, MQFM ditutup dan dibredel? relakah kita bila suatu saat yayasan-yayasan seperti BAZ, Dompet Dhuafa Republika, Rumah Zakat, PKPU, DSUQ dll yang membantu kaum dhuafa dan yatim piatu ditutup pemerintah dengan alasan membantu orang-orang islam. Relakah kita jika orang-orang parlemen sana membuat UU yang akan menyulitkan kaum muslim? Apakah itu semua yang kita inginkan hanya karena tidak adanya orang-orang yang berjihad/berdakwah di parlemen? Af1, ana pikir, orang-orang yang berjihad parlemen sana insyaAlloh sebagai alat atau media penyeimbang bagi kekuatan sekuler, kapitalis nasrani bahkan zionis yahudi.

Contoh lain akhi, ketika dulu pembuat UU adalah orang2 sekuler dan anti terhadap islam, mereka melarang wanita islam untuk berjilbab sesuai tuntunan islam, namun lihatlah sekarang hasil perjuangan mereka yang berusaha merubah kebijakan di parlemen sana… sudah bisa kita lihat hasilnya sangat banyak perubahan yang bisa kita saksikan saat ini, hampir di sepanjang jalan, di sekolah-sekolah, di kantor-kantor, telah dipenuhi oleh kaum muslimah yang tampak anggun dan syar’i dengan gaun taqwanya.

Ya akhifillah…Di luar sana begitu banyak orang yang membenci islam. Dengan berbagai cara mereka menghasut, menuduh, memfitnah dan mengadu domba kita sesama islam. Mengapa kita saling menuduh, memfitnah, berantem sesama kaum ahlus sunnah wal jamah. Ketahuilah bila kita bercerai berai mudah bagi mereka kaum yahudi dan kafir untuk memerangi kita. Berbagai trik dan propaganda mereka luncurkan untuk melemahkan rukhiyah dan semangat jihad –red: bersungguh2 dalam menjalankan dien—kita umat islam. Berbagai siasat dan tipu muslihat mereka tiupkan kepada umat ini. Sehingga bila kita sudah lemah dan loyo mudah bagi mereka menggempur kita.

Akhifillah rahimukumullah, mari bagi-bagi tugas, yang di parlemen bejihadlah mengganti UU yang sekuler dengan UU yang sesuai syariah, yang guru berjihadlah menjadikan murid-muridnya pintar & jadikan mereka para jundullah, yang pedagang berjihadlah dengan berdagang yang jujur dan baik, yang mahasiswa berjuanglah dengan segenap kemampuan tenaga, pikiran menjadi motor dan agent of change para pemuda supaya lebih dekat kepada dien islam, yang LSM berjihadlah bantu msyarakat agar lebih dekat kepada Rabbnya. Seharusnya kita bisa saling bahu membahu mengantarkan negeri ini dan isinya kepada keridhoan Alloh, kekuatan kita saling bersinergi satu sama lain, saling menguatkan, dan bukanlah sikap saling menjatuhkan dan merendahkan. Anggota kami di parlemen, insya Alloh berjuang mencurahkan segala tenaga, pikiran, & perbuatan untuk mengimbangi kekuatan sekuler, nasrani & zionis di parlemen agar sebisa mungkin tidak ada UU yang melanggar hak kaum muslimin, bahkan kami berjuang agar peraturan-peraturan yang dibuat justru menyebabkan kemaslahatan bagi umat ini. Tetapi itu semua tidak mungkin akan terjadi bila kita semua umat muslim berpecah belah, tidak bersatu. Hasbiyallah wani’mal wakil ni’mal maula wani’man nasyir.. Dan tentunya hanyalah Alloh yang menjadi pelindung kita semua.

Sungguh, daulah adalah cita-cita besar umat ini. Namun harus diingat akhi, bahwa hanya dengan daulah/khilafah saja, tidak dengan sendirinya akan menjamin islam ini akan tegak. Tidak dengan sendirinya syariat islam terwujud. Melainkan melalui pemberian pemahaman islam yang sempurna kepada masyarakat, dan melalui pembentukan kepribadian islam terhadap umat, serta pembinaan.tarbiyah yang continue yang dapat menegakkan umat islam ini, sehingga umat ini akan memiliki pondasi-pondasi iman yang kokoh/tsabat. Karena proses tarbiyah ini waktunya tidak tergantung apakah sebelum berdirinya daulah atau pasca berdirinya daulah. Tetapi dari sekarang, mulai saat ini, dari diri sendiri, mulai dari hal yang kecil, berefek kepada keluarga, keluarga-keluarga yang soleh akan menimbulkan efek positif terhadap masyarakat.

Akhi, jika antum menyalahkan kami karena kami ada di wilayah parlemen yang bersinggungan dengan produk-produk hukum manusia. Yang menurut antum, kami telah mencampur adukkan kebenaran dengan kebatilan. Ana katakan itu adalah resiko. Tapi bukankah ana telah tegaskan sebelumnya bahwa jikalau kita merelakan posisi-posisi itu diisi oleh musuh-musuh kita karena kita meninggalkan parlemen, maka mereka musuh-musuh Alloh akan dengan seenaknya menggunakan UU itu untuk menghancurkan kita. Ana yakinkan, bahwa kita di parlemen adalah sebagai counter/penyeimbang bagi kekeuatan musuh kita.

Akhi, bukankah ibadah terdiri dari dua macam, ibadah maghdoh dan ibadah umum (ghoiru maghdah). Ibadah maghdoh seperti shalat, puasa haji dll mutlak harus sesuai kaidah rasul saw. Sedangkan ibadah umum adalah aktifitas kita yang karena lillahi ta’ala. Contoh makan dengan berdoa terlebih dahulu, menafkahi keluarga, belajar, berolahraga, berdakwah, berdakwah via parlemen (atau berorganisasi apa saja). Berdakwah bisa lewat apa saja tidak harus seperti tabligh akbar atau ceramah jumat. Berdakwah bisa lewat pengembangan institusi pesantren, bisa lewat radio, televisi, media koran, buku-buku, novel islami, cerpen islami, internet, handphone dsb. Bila berdakwah via parlemen dianggap tidak nyunnah, maka setiap kita berdakwah via media massa, televisi, atau pun novel, maka dianggap tidak nyunnah Rosul saw. Ketahuilah, partai hanyalah sebuah alat atau wasilah untuk memaksimalkan perjuangan. Bisa saja suatu saat untuk memperjuangkan Hukum Allah di Indonesia metodenya berganti menjadi bukan partai, semuanya tergantung kondisi yang ada. Dan berpartai pun adalah termasuk ibadah ammah/umum karena wilayahnya adalah wilayah muamalah bukan ibadah maghdoh. insyaAlloh.

Oh iya, antum pun pernah bilang bahwa Rosul pun tidak pernah mendirikan partai. Ana katakan, memang iya tapi bukankah zaman semakin berkembang, tentunya bermunculan masalah-masalah kontemporer yang memerlukan ijtihad-ijtihad para ulama untuk menanggulangi masalah kontemporer itu. Oya, antum pun pernah bilang tentang penolakan Rosul saw mengenai harta atau kekuasaan. Memang benar Rosul saw menolak kekuasaan, tapi tahukah dibalik penawaran kafir Quraisy itu? Harganya adalah Rosul saw harus BERHENTI dari dakwah. Sehingga dalam suatu riwayat dikatakan bahwa Rosul saw sampai bersabda: “Andai mereka (kaum kafir Quraisy) meletakkan matahari di tangan kananku dan meletakkan rembulan di tangan kiriku. Aku(rosul) tak akan pernah berhenti dari dakwah ini, lebih baik ajal menjelang dan mati syahid di jalan Alloh dibandingkan saya harus berhenti berdakwah”. Imbalan atas harta atau kekuasaan itu terlalu mahal, sebab yang mereka tuntut adalah berhenti dari dakwah. Di masa kini, ketika partai islam berupaya masuk parlemen, tidak ada konsekuensi untuk berhenti dakwah. Tidak, kita tidak boleh berhenti berdakwah. Never Give Up!

Akhifillah, sekali lagi ana bilang bahwa ikhwan gabung di parlemen hanyalah sebuah ijtihad bagi permasalahan kontemporer. Bila ini suatu kesalahan, maka kesalahan ini adalah dari kami (hamba Alloh) semata. Tapi bila ini sebuah kebenaran, maka ketahuilah kebenaran ini hanyalah pertolongan Alloh semata. Ketahuilah, ini hanyalah pendapat ana yang lemah dan bodoh “Innahu kana dhuluman zahula ” sesungguhnya manusia itu zalim dan bodoh”.

“Ya Tuhan Kami, sesungguhnya kami mendengar (seruan) yang menyeru kepada iman, (yaitu). “Berimanlah kamu kepada Tuhanmu”, maka kamipun beriman. Ya Tuhan kami, ampunilah bagi kami dosa-dosa kami dan hapuskanlah dari kami kesalahan-kesalahan kami, dan wafatkanlah kami beserta orang-orang yang banyak berbakti” (QS Ali Imran:193)
wallahu a’lam bishawab

Al Fakir Ilallah.

Kenzi Al-Khalid

Say your words