Dag dig dug 2 x 45 menit

Momentum yang tepat untuk memperhatikan emosi yang berfluktuatif adalah saat menonton sepak bola. Saya sendiri sering merasakan ketika menonton bola terutama pertandingan Indonesia ataupun Persib Bandung. Menit demi menit jantung semakin berdegup kencang, adrenalin memuncak, emosi naik turun, kadang-kadang berteriak-teriak sendiri mencemooh pemain tim kesayangan bermain bodoh dan konyol. Kadang-kadang memuji-muji pemain tim kesayangan bila bermain cantik, meliuk-liuk mwelewati pemain lawan san menjebol gawang lawan. Kegembiraan, kesenangan tiba-tiba berubah 1800 ketika tim lawan berhasil menjebol gawang tim nas atau tim persib. Teriak-teriak adalah gejala stres mulai melanda, marah-marah di depan televisi sendiri. Wah pokokna hampir lupa daratan. Namun menit-menit selanjutnya kadang-kadang berubah drastis berteriak-teriak kegirangan atau bertepuk tangan karena tim kesayangan berhasil menjebol gawang lawan. Ah, tapi itu hanyalah hiburan.

Itulah emosi-emosi yang bermunculan ketika seseorang nonton bola. Sungguh terasa aneh, mengapa bisa berperilaku seperti itu, mungkin hanya orang-orang pecinta bola saja yang bisa berpersaan seperti itu. Ego manusia yang selalu ingin menang, hubungan kedekatan kekerabatan ataupun karena satu daerah, satu golongan, atau apapun bisa menyebabkan seseorang mendukung satu tim kesayangannya.

Seringkali emosi meledak-ledak ketika saya mendukung tim kesayangan seperti timnas Indonesia apalagi Tim Persib Maung Bandung. Tetapi emosi itu hanya sesaat, saat itu saja, ketika pertandingan habis saya bisa menerima kekalahan dengan lapang dada apalagi bila tim kesayangan menang. Kemenangan tim Persib adalah suatu kebahagiaan, kebanggaan.

Sungguh, saya benci kepada pendukung yang tidak bisa menerima kekalahan. Mereka kadang-kadang tidak menerima kekalahan dengan melakukan kerusuhan, merusak dan membakar stadion, melempari wasit dan ofisial tim lawan, bahkan bak perang terbuka dengan pendukung lawan saling melempari batu, saling tusuk. Ah, sungguh perilaku barbar yang norak, urakan dan kampungan. Padahal bila menerima kekalahan dengan fair, tidak menerima kekalahan dengan merusak. Sungguh perilaku penonton yang terpuji. Saya kadang terkesan dengan perilaku penonton inggeris dalam liga-liga mereka. Walaupun tim kesayangan kalah tapi mereka tetap menerima kekalahan dengan lapang dada dan menghormati kemenangan tim lawan. Sungguh berbeda dengan pendukung Indonesia yang brutal.

Hm, kok jadi membahas penonton sih, habis kesel sih ngeliat penonton Indonesia yang kampungan yang suka tawuran. Sebaiknya setiap stadion di Indonesia punya Ring Tinju+sansak tinju. Jadi apabila penonton kesal karena tim kesayangannya kalah bisa melampiaskan kemarahannya di arena ring tinju dengan meninju-ninju sansak sepuasnya. Atau kalo gak penonton indonesia bisa nyalurin hobi rusuhnya dengan beralih profesi jadi petinju. Ikutan tuh lomba tinju. Bermanfaat dan berprestasi. Daripada melakukan anarkis yang merugikan.

Sebenarnya saya juga kadang kesal, marah jika nonton tim persib kalah. Tapi kemarahannya hanya sesaat itu saja, saat pertandingan saja. Kadang-kadang saya berteriak-teriak ngatain pemain gak becus. Makanya kalo nonton bola di rumah, saya suka sendirian. Berisik kata family saya. Bahkan keponakan saya yang masih imut umur 5 tahunan pernah bilang saya seperti kesurupan bila nonton pertandingan persib. Haha… padahal just have fun aja kok. Just entertainment. Kalo tim kesayangan seperti Persib ataupun Timnas Indonesia kalah, yah saya terima kekalahan dengan lapang dada. Itu artinya kemampuan tim kesayangan masih di bawah tim lawan ataupun belum beruntung. Tetapi bila tim persib menang. Hm, bahagia lho… wah pokok’e bahagia dech ga bisa dilukiskan kebahagiannyaa. Cie…

Wah, dag dig dug 2 x 45 menit yang sangat menghibur.

NB : tulisan dibuat setelah kesal ngeliat Tim Persib kalah 2-3 dari PSM makasar. Emosi yang fluktuatif terjadi ketika melihat Timnas Indonesia akhirnya bisa ngalahin Laos 3-1 walopun sempat tertinggal lebih duli 0-1 di babak pertama. Yah, cuman laos coba yang dikalahinnya Tim Brasil. Ajaib kallee…

Say your words