Archive for February, 2007

Yu ah menulis…

Bismillahirrahmanirrahim
ba’da tahmid wassholawat.
Berapa umur Anda sekarang? Ayo hitung lagi… lihat di KTP tahun berapa kita lahir? Setelah kita mengetahui umur biologis/KTP, sekarang coba kita hitung berapa umur ma’nawi kita. Berapa waktu kita yang digunakan untuk beribadah ? Aduh, berapa ya? Aih… aih.. jadi malu… kata Imam Ghazali sih untuk tidur saja kita menghabiskan waktu 20 tahun. Wuah… katanya mengharap surga+bidadari yang jelita tapi 1/3 umur kita saja dihabiskan untuk tidur. Lha Ibadahnya kapan? Hiks hiks padahal Kalo dihitung-hitung, masing-masing waktu kita sama: 60 detik dalam 1 menit, 60 menit dalam 1 jam dan 24 jam sehari, 7 hari per pekan dan seterusnya.

Kalau dipikir-pikir, boleh jadi umur kita sudah sampai belasan tahun, puluhan tahun, atau bahkan ratusan tahun (hehe yang ini gak mungkin kale…). Tapi coba hitung dech, berapa kontribusi umur kita untuk kebaikan? Berapa lama waktu kita yang digunakan untuk Alloh sang khalik, untuk agama kita? Ah… sepertinya tidak sampe 10 tahun. Lalu bagaimana agar umur yang singkat ini bisa mencapai keabadian? Tenang saja, bisa kok.

Kamu pasti tahu dong Imam Ghazali? Umur Imam Ghazali hanyalah sekitar 55 tahun secara biologis, tapi secara ma’nawi Imam ghazali masih hidup sampai sekarang. Bahkan sampai kiamat pun namanya insya Alloh tetep hidup. Itu dikarenakan tulisan-tulisan beliau banyak dibaca umat dari zaman ke zaman. Subhanalloh… keabadian Imam Ghazali didapat dari ilmu-ilmu beliau yang dirangkum dalam kitab-kitab yang bermanfaat. Contoh lain adalah Syekh Imam Nawawi, umur Syekh Nawawi tidak lebih dari 45 tahun secara biologis tapi secara ma’nawi beliau tetap hidup sampai sekarang bahkan juga sampai hari kiamat. Karena apa? Buku atau kitab-kitab beliau dibaca, dipelajari dan diamalkan umat dari zaman ke zaman. Subhanalloh… bukankah itu suatu keabadian pahala dari tulisan?

Lalu mengapa saya berani mengatakan bahwa pahala menulis adalah pahala keabadian. kata keabadian, merujuk kepada hadits nabi tentang amal yang tiada terputus. Sesungguhnya apabila setiap anak Adam telah mati, terputuslah amalnya kecuali tiga: shodaqoh jariyah, ilmu yang bermanfaat, dan do’a anak yang sholih. Nah, setidaknya, menghasilkan tulisan masuk dalam kategori ilmu yang bermanfaat. Tulisan dapat menjadi semacam passive income (passive income merujuk kepada istilah yang digunakan Robert T Kiyosaki pada bukunya Cash Flow Quadrant. Istilah ini berarti penghasilan yang diperoleh tanpa harus bekerja, seperti deposito, reksadana dan lain-lain). Tatkala kita sudah tidak mampu beramal lagi, Allah masih mencatatkan pahala apabila tulisan kita masih menginspirasi orang lain untuk berbuat baik.

Jadi mulai saat ini, jadikan tulisan-tulisanmu menjadi penerang bagi kegelapan, pelepas dahaga bagi kehausan. Intinya jadikan dirimu bermanfaat bagi orang lain. Rosul pun bersabda yang diriwayatkan Ath-Thabrani dari Ibnu Umar ra: “Perumpamaan seorang mukmin adalah seperti sebatang pohon kurma. Apapun yang kamu ambil darinya akan memberikan manfaat kepadamu.

Jadilah seperti air yang suci menyucikan, bergerak untuk menghidupkan, mengalir untuk kebaikan, memancar dengan kekuatan, dikelola menjadi pembangkit energi dahsyat kehidupan. Itulah pilar kesuksesan, kunci kebahagiaan dengan menebar kebaikan, salah satunya lewat tulisan. Insya Alloh. Selamat berjuang untuk Ikhwah Fillah. Jadikan goresan penamu penegak keadilan, pencegah kemunkaran, penyeru kebaikan. jadikan tinta penamu pemberat amal kebaikan di yaumul hisab. Akhirul kalam. wassalam

Wallahu a’lam
Kenzi Al-Khalid

Leave a comment »

NASYID ITU SPIRITUAL EDUTAINMENT

Beberapa tahun lalu nasyid merupakan sebuah entertainment terbatas tersendiri di kalangan orang-orang tertentu dan hanya terkenal pada pasar tertentu saja, terutama para aktifis dakwah. Namun seiring perkembangannya, ternyata nasyid menjelma menjadi suatu edutainment yang mempunyai posisi tertentu sebagai media seni, hiburan dan tentu saja nilai edukasi spiritualnya sebagai esensi utamanya. Sekarang, penikmat nasyid tidak terbatas di kalangan para aktivis saja, nasyid telah menjadi hiburan di kalangan masayarakat umum. Masyarakat begitu terwarnai dengan munculnya munsyid-munsyid baru yang kaya akan kreatifitas dan inovasi-inovasi baru tanpa menghilangkan unsur spiritualitasnya.

Alhasil, kreatifitas dan inovasi-inovasi ini menghasilkan warna dan genre tersendiri terhadap nasyid itu sendiri. Kalau beberapa tahun lalu, mungkin kita hanya mengenal jenis nasyid accapella saja, dengan pioneernya di Indonesia yaitu Grup nasyid Snada. Tidak lama muncul aliran baru berupa aliran haroki, yang terkenal dengan nuansa harokah(pergerakan) dan semangat jihadnya. Aliran ini pertama kali diusung oleh grup nasyid Izzatul Islam. Tidak bisa dipungkiri kedua grup ini (snada & izzis) memberikan warna tersendiri bagi warna nasyid Indonesia. yang akhirnya bermunculanlah grup-grup nasyid baru.

Serbuan munsyid-munsyid dari negeri Jiran Malasyia malah lebih meramaikan blantika musik Indonesia. Dengan dimotori oleh Raihan, warna nasyid Malasyia lebih dulu mendapat tempat di kalangan masayarakat umum di Indonesia. bahkan kalau tidak salah, grup nasyid Raihan lebih dahulu mendapatkan penghargaan platinum di negara Indonesia dibandingkan grup nasyid asli Indonesia sendiri.

Setelah berakulturasi (meminjam istilah budaya; yang artinya bercampur menghasilkan sesuatu yang baru). Kemudian muncullah genre-genre nasyid baru yang bahkan lebih dekat dengan genre musik populer dan alternatif. diantaranya nasyid pop, nasyid kustik, dll. Diantara beberapa grup nasyid papan atas yang penulis kenal yaitu Shaff-fix, Edcoustic, Justice Voice, Star 5.

Terlepas ada yang berpendapat ke luar jalur nasyid atau tidak, tapi sebenarnya pesan-pesan spiritual dan dakwah tetap menjadi bagian paling penting dari nasyid sekarang. Liriknya tetap saja kebanyakan bercerita tentang amar ma’ruf nahi munkar, ma’rifatullah, marifaturrasul, dan kekaguman terhadap alam. Walaupun tetap saja ada yang berwarna pink, bias tentang cinta dua insan.

Bila dibandingkan dengan jenis musik biasa, tentu saja jauh berbeda. Jenis musik biasa (musik cadas, pop, alternatif apalagi dangdut) kebanyakan bertemakan percintaan, kesedihan, dsb. Ini tentu saja bisa berdampak negatif bagi orang-orang yang mendengarnya. Liriknya juga kering akan nilai-nilai spiritualitas, apalagi dangdut dengan gerakan-gerakan erotisnya. Terkesan kampungan dan menjijikan. Makanya tidak usah heran bila banyak penyanyi biasa yang mengalami stress! Bahkan tidak sedikit yang terseret narkoba dan berujung di penjara dan liang kubur alias bunuh diri. Menggenaskan!. Contohnya Kurt Cobain (vokalisnya Nirvana), stress dengan narkoba akhirnya mengakhiri hidup dengan bunuh diri.

Berbeda dengan para munsyid, penulis melihat ada sisi keberkahan dari kehidupan para munsyid. Terkesan damai. Hal ini terjadi mungkin karena nilai-nilai spiritual yang terdapat pada liriknya mampu mengubah paradigma berpikir sehingga tidak mudah stress, malah yang ada selalu bersyukur dan bertafakur. Nilai idealisme dari nasyid itu sendiri adalah nilai positifnya. Ya, nasid itu Spiritual Edutainment, media hiburan yang mendidik dan mendekatkan diri kepada Rabbnya.

Wallahu a’lam

Kenzi Al-Khalid

Comments (3) »

Dag dig dug 2 x 45 menit

Momentum yang tepat untuk memperhatikan emosi yang berfluktuatif adalah saat menonton sepak bola. Saya sendiri sering merasakan ketika menonton bola terutama pertandingan Indonesia ataupun Persib Bandung. Menit demi menit jantung semakin berdegup kencang, adrenalin memuncak, emosi naik turun, kadang-kadang berteriak-teriak sendiri mencemooh pemain tim kesayangan bermain bodoh dan konyol. Kadang-kadang memuji-muji pemain tim kesayangan bila bermain cantik, meliuk-liuk mwelewati pemain lawan san menjebol gawang lawan. Kegembiraan, kesenangan tiba-tiba berubah 1800 ketika tim lawan berhasil menjebol gawang tim nas atau tim persib. Teriak-teriak adalah gejala stres mulai melanda, marah-marah di depan televisi sendiri. Wah pokokna hampir lupa daratan. Namun menit-menit selanjutnya kadang-kadang berubah drastis berteriak-teriak kegirangan atau bertepuk tangan karena tim kesayangan berhasil menjebol gawang lawan. Ah, tapi itu hanyalah hiburan.

Itulah emosi-emosi yang bermunculan ketika seseorang nonton bola. Sungguh terasa aneh, mengapa bisa berperilaku seperti itu, mungkin hanya orang-orang pecinta bola saja yang bisa berpersaan seperti itu. Ego manusia yang selalu ingin menang, hubungan kedekatan kekerabatan ataupun karena satu daerah, satu golongan, atau apapun bisa menyebabkan seseorang mendukung satu tim kesayangannya.

Seringkali emosi meledak-ledak ketika saya mendukung tim kesayangan seperti timnas Indonesia apalagi Tim Persib Maung Bandung. Tetapi emosi itu hanya sesaat, saat itu saja, ketika pertandingan habis saya bisa menerima kekalahan dengan lapang dada apalagi bila tim kesayangan menang. Kemenangan tim Persib adalah suatu kebahagiaan, kebanggaan.

Sungguh, saya benci kepada pendukung yang tidak bisa menerima kekalahan. Mereka kadang-kadang tidak menerima kekalahan dengan melakukan kerusuhan, merusak dan membakar stadion, melempari wasit dan ofisial tim lawan, bahkan bak perang terbuka dengan pendukung lawan saling melempari batu, saling tusuk. Ah, sungguh perilaku barbar yang norak, urakan dan kampungan. Padahal bila menerima kekalahan dengan fair, tidak menerima kekalahan dengan merusak. Sungguh perilaku penonton yang terpuji. Saya kadang terkesan dengan perilaku penonton inggeris dalam liga-liga mereka. Walaupun tim kesayangan kalah tapi mereka tetap menerima kekalahan dengan lapang dada dan menghormati kemenangan tim lawan. Sungguh berbeda dengan pendukung Indonesia yang brutal.

Hm, kok jadi membahas penonton sih, habis kesel sih ngeliat penonton Indonesia yang kampungan yang suka tawuran. Sebaiknya setiap stadion di Indonesia punya Ring Tinju+sansak tinju. Jadi apabila penonton kesal karena tim kesayangannya kalah bisa melampiaskan kemarahannya di arena ring tinju dengan meninju-ninju sansak sepuasnya. Atau kalo gak penonton indonesia bisa nyalurin hobi rusuhnya dengan beralih profesi jadi petinju. Ikutan tuh lomba tinju. Bermanfaat dan berprestasi. Daripada melakukan anarkis yang merugikan.

Sebenarnya saya juga kadang kesal, marah jika nonton tim persib kalah. Tapi kemarahannya hanya sesaat itu saja, saat pertandingan saja. Kadang-kadang saya berteriak-teriak ngatain pemain gak becus. Makanya kalo nonton bola di rumah, saya suka sendirian. Berisik kata family saya. Bahkan keponakan saya yang masih imut umur 5 tahunan pernah bilang saya seperti kesurupan bila nonton pertandingan persib. Haha… padahal just have fun aja kok. Just entertainment. Kalo tim kesayangan seperti Persib ataupun Timnas Indonesia kalah, yah saya terima kekalahan dengan lapang dada. Itu artinya kemampuan tim kesayangan masih di bawah tim lawan ataupun belum beruntung. Tetapi bila tim persib menang. Hm, bahagia lho… wah pokok’e bahagia dech ga bisa dilukiskan kebahagiannyaa. Cie…

Wah, dag dig dug 2 x 45 menit yang sangat menghibur.

NB : tulisan dibuat setelah kesal ngeliat Tim Persib kalah 2-3 dari PSM makasar. Emosi yang fluktuatif terjadi ketika melihat Timnas Indonesia akhirnya bisa ngalahin Laos 3-1 walopun sempat tertinggal lebih duli 0-1 di babak pertama. Yah, cuman laos coba yang dikalahinnya Tim Brasil. Ajaib kallee…

Leave a comment »

Pilih Derajat Malaikat atau Hewan?

Bismillahirrahmanirrahiim

Maha Suci Alloh yang telah memberikan rahmat dan kasih sayangNya kepada mahluk di dunia ini tak terkecuali pada manusia. Manusia adalah mahluk yang cantik fisiknya dan sebaik-baik penciptaan, sebgaimana tersurat dalam kalam Al-Quran yang mulia di dalam Surat At-Tin:4 “Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk sebaik-baiknya”. Alloh juga mengkaruniai manusi berupa akal, hati nurani serta kelebihan-kelebihan lainnya dibandingkan mahluk lainnya. Oleh karenanya, manusia dijadikan khalifatu pil alrd (Pemimpin/pengelola di dunia). Kemuliaan manusia pun tercatat dalam firman lain di dalam Al-quran bagaimana Alloh menyuruh bersujud para malaikat kepada Adam. Ayat lain pun menegaskan kedudukan manusia dibanding mahluk lainnya “Dan sesungguhnya Kami telah memuliakan amak Adam(manusia) dan Kami angkut mereka di darat dan di laut, dan Kami melebihkan mereka atas mahluk-mahluk yang Kami ciptakan, dengan kelebihan yang menonjol” (Q.S Al-Isro 17:70).

Pada prinsipnya, malaikat juga adalah mahluk mulia. Namun jika manusia beriman dan taat kepada Alloh swt, manusia bisa melebihi kemuliaan para malaikat. Tetapi kemulian manusia bisa berada di level yang sama dengan hewan, bahkan lebih rendah daripada hewan jika kita berperilaku seperti hewan, yaitu menghalalkan segala cara untuk memenuhi kebutuhan perut dan syahwat biologisnya, saling menjegal, merampas, membunuh, tidak peduli dengan aturan dan larangan Alloh. Bukankah Alloh telah mengkaruniai kita akal dan nurani sebagai alat kontrol diri?

Acapkali kita melihat di televisi ataupun membaca di koran berita kriminal dimana ada seorang ibu dengan sadis membunuh bayi yang dilahirkan dari hasil hubungan gelapnya (zina). Ada yang hanya membuang, meninggalkan begitu saja bayinya di tempat sampah, ada yang membakar bahakan memotong-motong badan si bayi. (na’udzubillah). Sungguh, perilaku biadab, kezi yang dilakukan manusia. Dimana hati nurani mereka? Bukankah hewan saja tidak berperilaku sadis sperti itu? Hewan yang tidak mempunyai akal dan hati nurani, hewan yang tidak pernah mengenyam pendidikan moral begitu sayang terhadap anaknya, subhanallah… tapi lihatlah realita sekarang manusia begitu kejam terhadap sesamanya bahka terhadap anaknya sendiri pun begitu kejam.

Kekejaman dan keburukan manusia karena tidak adanya ketaqwaan dan keimanan manusia menyebabkan manusia berperilaku seperti hewan bahkan lebih buruk daripada hewan sekalipun. Sebaliknya, manusia lebih mulia daripada malaikat bila hidupnya di payungi oleh keimanan dan ketakwaan. Ketakwaan yang melahirkan budi pekerti dan ahlak yang mulia. So, manakah yang kita pilih? Menjadi manusia yang mulia melebihi derajat malaikat atau menjadi manusia yang rendah seperti hewan?

Wallohu A’lam
By Kenzi Al-Khalid
NB: Terinspirasi ketika melihat kasih sayang seekor hewan kepada anaknya, padhal hewan tersebut tidak pernah mengenal kasih sayang sang induk, tidak pernah mendapatkan pendidikan moral seperti manusia. Subhanalloh… Rahman Alloh itu pasti.

Leave a comment »

untuk sahabatku

Assalamu’alaikum.

Ini adalah surat yang ana sampaikan kepada saudara/sahabat seperjuangan. Walaupun beliau sekarang sudah berbeda ‘kendaraan’ pemikiran namun ada kewajiban bagi ana untuk saling mengingatkan dalam hal kebaikan, seperti yang tersurat dalam Q.S Al-Asr. Surat ini ana sampaikan kepada teman ana dan tidak bermaksud untuk membantah pemikiran-pemikiran beliau yang menyalahkan ana ikut dalam perjuangan syariat melalui partai. Sungguh, ana tidak merasa paling benar dan sungguh, ana sangat menghargai keputusan beliau melalui pergerakannya. Kita sama-sama memperjuangkan apa yang kita anggap sebuah kebenaran. Jadi hendaknya diantara kita tidak ada saling salah-menyalahkan, saling menghambat, namun sebisa mungkin kita saling berseinergi satu sama lain saling menguatkan. InsyaAlloh. Bagaimanapun, ini hanyalah sebuah diskusi pemikiran, yang insya Alloh sebuah diskusi sehat yang masih berada dalam koridor tanawwu (diperbolehkan) dalam islam. Insya Alloh. Berikut isi tulisan ana.

Akhifillah, dakwah di parlemen adalah sebuah ijtihad terhadap permasalahan kontemporer. Karena apa? Wilayah di parlemen dan pemerintahan sangat strategis sebagai pembuat kebijakan dimana kebijakan itu akan berpengaruh besar terhadap kehidupan kita. Tentunya Kebijakan yang kami perjuangkan adalah kebijakan yang diridhoi Allah dan melindungi hak-hak kaum muslimin indonesia. karena apa? Kebanyakan kebijakan yang ada sekarang merugikan dan membuat umat muslim Indonesia menderita, tersiksa, bahkan kehilangan hak-haknya walaupun kebanyakan orang-orang parlemen beragama islam, tapi karena sekuler, akhi sendiri tentu bisa menilai bagaimana pro tidaknya mereka terhadap islam.

Bayangkan akhi, bagaimana jadinya kalo umat ini meninggalkan wilayah yang di parlemen itu. So, relakah kita bila menyerahkan kebijakan urusan kita sendiri kepada mereka yang sekuler, phobia, bahkan benci terhadap umat islam. Relakah kita bila tiba-tiba berbagai kebijakan di parlemen sana akan menyudutkan dan memberangus kita umat islam? Misalkan, ada UU anti jilbab, UU penghapusan pelajaran agama di sekolah-sekolah dengan alasan SARA, apakah kita diam saja jika majelis taklim dan tabligh akbar dibubarkan polisi Detasemen 88 karena dilarang UU anti terorisme? Relakah kita jika masjid hanya jadi simbol belaka karena sholat dilarang, adzan dilarang, kajian-kajian islam dilarang, seminar-seminar keislaman dilarang dengan alasan membantu menyuburkan terosisme? relakah kita jika khamar dihalalkan oleh DPR/MPR? relakah kita jika pelacuran dan perjudian dilegalkan karena omzetnya yang besar untuk PAD? Relakah kita bila suatu saat media-media islam seperti Republika, SABILI, SAKSI, ANNIDA, UMMI, MQTV, MQFM ditutup dan dibredel? relakah kita bila suatu saat yayasan-yayasan seperti BAZ, Dompet Dhuafa Republika, Rumah Zakat, PKPU, DSUQ dll yang membantu kaum dhuafa dan yatim piatu ditutup pemerintah dengan alasan membantu orang-orang islam. Relakah kita jika orang-orang parlemen sana membuat UU yang akan menyulitkan kaum muslim? Apakah itu semua yang kita inginkan hanya karena tidak adanya orang-orang yang berjihad/berdakwah di parlemen? Af1, ana pikir, orang-orang yang berjihad parlemen sana insyaAlloh sebagai alat atau media penyeimbang bagi kekuatan sekuler, kapitalis nasrani bahkan zionis yahudi.

Contoh lain akhi, ketika dulu pembuat UU adalah orang2 sekuler dan anti terhadap islam, mereka melarang wanita islam untuk berjilbab sesuai tuntunan islam, namun lihatlah sekarang hasil perjuangan mereka yang berusaha merubah kebijakan di parlemen sana… sudah bisa kita lihat hasilnya sangat banyak perubahan yang bisa kita saksikan saat ini, hampir di sepanjang jalan, di sekolah-sekolah, di kantor-kantor, telah dipenuhi oleh kaum muslimah yang tampak anggun dan syar’i dengan gaun taqwanya.

Ya akhifillah…Di luar sana begitu banyak orang yang membenci islam. Dengan berbagai cara mereka menghasut, menuduh, memfitnah dan mengadu domba kita sesama islam. Mengapa kita saling menuduh, memfitnah, berantem sesama kaum ahlus sunnah wal jamah. Ketahuilah bila kita bercerai berai mudah bagi mereka kaum yahudi dan kafir untuk memerangi kita. Berbagai trik dan propaganda mereka luncurkan untuk melemahkan rukhiyah dan semangat jihad –red: bersungguh2 dalam menjalankan dien—kita umat islam. Berbagai siasat dan tipu muslihat mereka tiupkan kepada umat ini. Sehingga bila kita sudah lemah dan loyo mudah bagi mereka menggempur kita.

Akhifillah rahimukumullah, mari bagi-bagi tugas, yang di parlemen bejihadlah mengganti UU yang sekuler dengan UU yang sesuai syariah, yang guru berjihadlah menjadikan murid-muridnya pintar & jadikan mereka para jundullah, yang pedagang berjihadlah dengan berdagang yang jujur dan baik, yang mahasiswa berjuanglah dengan segenap kemampuan tenaga, pikiran menjadi motor dan agent of change para pemuda supaya lebih dekat kepada dien islam, yang LSM berjihadlah bantu msyarakat agar lebih dekat kepada Rabbnya. Seharusnya kita bisa saling bahu membahu mengantarkan negeri ini dan isinya kepada keridhoan Alloh, kekuatan kita saling bersinergi satu sama lain, saling menguatkan, dan bukanlah sikap saling menjatuhkan dan merendahkan. Anggota kami di parlemen, insya Alloh berjuang mencurahkan segala tenaga, pikiran, & perbuatan untuk mengimbangi kekuatan sekuler, nasrani & zionis di parlemen agar sebisa mungkin tidak ada UU yang melanggar hak kaum muslimin, bahkan kami berjuang agar peraturan-peraturan yang dibuat justru menyebabkan kemaslahatan bagi umat ini. Tetapi itu semua tidak mungkin akan terjadi bila kita semua umat muslim berpecah belah, tidak bersatu. Hasbiyallah wani’mal wakil ni’mal maula wani’man nasyir.. Dan tentunya hanyalah Alloh yang menjadi pelindung kita semua.

Sungguh, daulah adalah cita-cita besar umat ini. Namun harus diingat akhi, bahwa hanya dengan daulah/khilafah saja, tidak dengan sendirinya akan menjamin islam ini akan tegak. Tidak dengan sendirinya syariat islam terwujud. Melainkan melalui pemberian pemahaman islam yang sempurna kepada masyarakat, dan melalui pembentukan kepribadian islam terhadap umat, serta pembinaan.tarbiyah yang continue yang dapat menegakkan umat islam ini, sehingga umat ini akan memiliki pondasi-pondasi iman yang kokoh/tsabat. Karena proses tarbiyah ini waktunya tidak tergantung apakah sebelum berdirinya daulah atau pasca berdirinya daulah. Tetapi dari sekarang, mulai saat ini, dari diri sendiri, mulai dari hal yang kecil, berefek kepada keluarga, keluarga-keluarga yang soleh akan menimbulkan efek positif terhadap masyarakat.

Akhi, jika antum menyalahkan kami karena kami ada di wilayah parlemen yang bersinggungan dengan produk-produk hukum manusia. Yang menurut antum, kami telah mencampur adukkan kebenaran dengan kebatilan. Ana katakan itu adalah resiko. Tapi bukankah ana telah tegaskan sebelumnya bahwa jikalau kita merelakan posisi-posisi itu diisi oleh musuh-musuh kita karena kita meninggalkan parlemen, maka mereka musuh-musuh Alloh akan dengan seenaknya menggunakan UU itu untuk menghancurkan kita. Ana yakinkan, bahwa kita di parlemen adalah sebagai counter/penyeimbang bagi kekeuatan musuh kita.

Akhi, bukankah ibadah terdiri dari dua macam, ibadah maghdoh dan ibadah umum (ghoiru maghdah). Ibadah maghdoh seperti shalat, puasa haji dll mutlak harus sesuai kaidah rasul saw. Sedangkan ibadah umum adalah aktifitas kita yang karena lillahi ta’ala. Contoh makan dengan berdoa terlebih dahulu, menafkahi keluarga, belajar, berolahraga, berdakwah, berdakwah via parlemen (atau berorganisasi apa saja). Berdakwah bisa lewat apa saja tidak harus seperti tabligh akbar atau ceramah jumat. Berdakwah bisa lewat pengembangan institusi pesantren, bisa lewat radio, televisi, media koran, buku-buku, novel islami, cerpen islami, internet, handphone dsb. Bila berdakwah via parlemen dianggap tidak nyunnah, maka setiap kita berdakwah via media massa, televisi, atau pun novel, maka dianggap tidak nyunnah Rosul saw. Ketahuilah, partai hanyalah sebuah alat atau wasilah untuk memaksimalkan perjuangan. Bisa saja suatu saat untuk memperjuangkan Hukum Allah di Indonesia metodenya berganti menjadi bukan partai, semuanya tergantung kondisi yang ada. Dan berpartai pun adalah termasuk ibadah ammah/umum karena wilayahnya adalah wilayah muamalah bukan ibadah maghdoh. insyaAlloh.

Oh iya, antum pun pernah bilang bahwa Rosul pun tidak pernah mendirikan partai. Ana katakan, memang iya tapi bukankah zaman semakin berkembang, tentunya bermunculan masalah-masalah kontemporer yang memerlukan ijtihad-ijtihad para ulama untuk menanggulangi masalah kontemporer itu. Oya, antum pun pernah bilang tentang penolakan Rosul saw mengenai harta atau kekuasaan. Memang benar Rosul saw menolak kekuasaan, tapi tahukah dibalik penawaran kafir Quraisy itu? Harganya adalah Rosul saw harus BERHENTI dari dakwah. Sehingga dalam suatu riwayat dikatakan bahwa Rosul saw sampai bersabda: “Andai mereka (kaum kafir Quraisy) meletakkan matahari di tangan kananku dan meletakkan rembulan di tangan kiriku. Aku(rosul) tak akan pernah berhenti dari dakwah ini, lebih baik ajal menjelang dan mati syahid di jalan Alloh dibandingkan saya harus berhenti berdakwah”. Imbalan atas harta atau kekuasaan itu terlalu mahal, sebab yang mereka tuntut adalah berhenti dari dakwah. Di masa kini, ketika partai islam berupaya masuk parlemen, tidak ada konsekuensi untuk berhenti dakwah. Tidak, kita tidak boleh berhenti berdakwah. Never Give Up!

Akhifillah, sekali lagi ana bilang bahwa ikhwan gabung di parlemen hanyalah sebuah ijtihad bagi permasalahan kontemporer. Bila ini suatu kesalahan, maka kesalahan ini adalah dari kami (hamba Alloh) semata. Tapi bila ini sebuah kebenaran, maka ketahuilah kebenaran ini hanyalah pertolongan Alloh semata. Ketahuilah, ini hanyalah pendapat ana yang lemah dan bodoh “Innahu kana dhuluman zahula ” sesungguhnya manusia itu zalim dan bodoh”.

“Ya Tuhan Kami, sesungguhnya kami mendengar (seruan) yang menyeru kepada iman, (yaitu). “Berimanlah kamu kepada Tuhanmu”, maka kamipun beriman. Ya Tuhan kami, ampunilah bagi kami dosa-dosa kami dan hapuskanlah dari kami kesalahan-kesalahan kami, dan wafatkanlah kami beserta orang-orang yang banyak berbakti” (QS Ali Imran:193)
wallahu a’lam bishawab

Al Fakir Ilallah.

Kenzi Al-Khalid

Leave a comment »