Bila Izrail datang memanggil
Jasad terbujur di pembaringan
Seluruh tubuh akan menggigil
Sekujur badan nan kedinginan
Tiada lagi gunanya harta, kawan, karib sanak saudara
Jikalah ada amal di dunia itulah hanya pembela kita
Janganlah mau disanjung-sanjung
Engkau digelar manusia agung
Sedarlah diri tau diuntung
Sebelum masa keranda diusung
Datang masanya insyaflah diri
Selimut putih pembalut badan
Tinggal semua yang dikasihi
Berjuanglah hidup sepanjang zaman
Sengaja saya menukilkan lirik hijaz yang berjudul selimut putih. Sebagai bahan renungan bahwa masalah hidup seseorang tidak ada yang tahu pasti. Kita tidak tahu kapan malaikat maut akan mencabut nyawa kita. Apakah kita akan wafat dalam keadaan beriman kepada Allah atau dalam keadaan ingkar kepada Allah swt.
Setelah mendengar tiga berita duka berurutan. Yang pertama berita meninggalnya orang yang sudah saya anggap nenek karena beliaulah yang mengasuh saya waktu kecil. Yang kedua berita meninggalnya salah satu family saya di Garut, dan yang ketiga meninggalnya tetangga saya, padahal kalau melihat usia, tetangga saya itu masih cukup muda. Tiga berita duka itu cukup membuat hati ini sepertinya terpaksa diingatkan bahwa kematian kapanpun, dimanapun siap menjemput. Tiba-tiba menyeruak dalam hati berbagai pertanyaan kepada diri sendiri. Sudah siapkah bila diri ini dijemput kembali ke hadirat Ilahi Rabbi? Bisakah saya menjawab pertanyaan-pertanyaan Malaikat di alam kubur? Amal apakah yang akan menemani saya ketika di alam kubur yang sempit dan gelap?
Berbagai pertanyaan pun bermunculan dalam hati, apakah diri ini sudah siap bila tiba-tiba dipanggil oleh Allah swt. Jawabannya pasti belum siap! Pertanyaan itu menggiring saya untuk menerima kesadaran sementara. Saya mengatakan ‘kesadaran sementara’ karena ‘kesadaran’ ini sifatnya sementara, bisa jadi dua atau tiga jam lagi saya sudah lupa tentang ‘kesadaran’ ini.
Sebelum diri ini mengalami hisab atau pengadilan akhirat, alangkah bijaknya bila kita mencoba bermuhasabah diri, menghisab diri kita sendiri. Apakah jiwa, pendengaran, penglihatan dan hati kita lebih banyak digunakan untuk melakukan maksiat daripada digunakan untuk mencapai keridhoanNya. Karena bukankah semuanya yang ada pada diri kita adalah titipan dari Allah swt, sebagai cobaan apakah kita akan menggunakannya untuk kebaikan atau keburukan.
Kematian itu pasti terjadi. Ada saat dimana mata yang digunakan untuk melihat ini akan menutup selama-lamanya. Akan ada saat dimana jantung kita yang terus berdenyut ini akan berhenti. Akan ada suatu masa dimana mulut ini tidak bisa lagi mengucapkan takbir, tahmid, tahlil dan tasbih. Akan ada suatu masa dimana mulut ini tidak akan bisa lagi membaca ayat-ayat Al-qur’an.
Hai diri, hisablah dirimu sendiri sebelum dihisab oleh Rabb mu. Bukankah akan ada suatu masa dimana kening ini tidak bisa lagi bersujud (sholat). Bukankah akan ada suatu masa dimana tanganmu tidak bisa lagi melakukan kebaikan memberi orang-orang fakir. Dan bukankah akan ada suatu masa dimana kakimu tidak bisa digunakan untuk berdiri (sholat) atau digunakan untuk melangkah ke mesjid atau majelis ta’lim. Lalu mengapa kita menyia-nyiakan kesempatan yang telah diberikan Allah swt.
Hai diri, ingatlah! Ketika nyawa telah tercabut dari jasadmu, tidak akan ada lagi kesempatan untuk bertaubat, tidak akan ada lagi kesempatan untuk berbuat amal soleh. Ketika diri telah terbujur kaku, dimandikan oleh sanak saudara, disholatkan, dibungkus oleh dua helai kain putih. Ya, kain kafan. Bukan dengan bajumu yang mahal. Kemudian mayat yang tak berdaya itu diusung dengan keranda menuju pembaringan terakhir. Sebuah lubang yang akan menjadi tempatmu bersemayam, ukurannya tidak lebih dari 2 x 1 meter. Tempat yang lembab, gelap. Rumahmu yang terakhir adalah kuburan bukan rumah mewah atau apartemen yang sering kau banggakan. Apakah hartamu yang banyak itu ikut menemanimi di alam barzakh? Tidak! Lalu siapakah yang paling setia menemanimu di alam kubur itu? Apakah istrimu yang setia ikut menemanimu? Apakah hartamu? Semua tidak ada yang setia kecuali amal solehmu.
Saya tidak sanggup lagi meneruskan kalimat-kalimat selanjutnya. Semakin saya mengetik malah semakin takut diri ini. Bukan! Bukan takut akan mati, tapi takut apakah diri ini mampu menjawab pertanyaan-pertanyaan malaikat. Takut bila amal soleh yang tak seberapa ini tidak sanggup membela saya di alam kubur. Jadi, mulai saat ini mari kita menabung amal soleh agar mendapatkan yang terbaik setelah kita meninggalkan dunia yang fana ini. Mendapatkan yang terbaik setelah kita meninggal, berjumpa dengan Rabb, mendapat Ridho dan surgaNya yang kekal.
Wallahu a’lam bisshawab
NB : Mengingat kematian adalah satu bahan bakar ghiroh beramal agar tetap menyala tidak padam disiram oleh kemalasan/futur