Archive for January, 2007

Untuk Yang Tersia-sia Malamnya

Bismillahirrahmanirrahim

“Lihatlah hari ini, sebab ia adalah kehidupan,kehidupan dari kehidupan.Dalam sekejap dia telah melahirkan berbagai hakikat dari wujudmu. Nikmatpertumbuhan. Pekerjaan yg indah. Indahnya kemenangan. Karena hari kemarin

tak lebih dari sebuah mimpi. Dan esok hari hanyalah bayangan. Namun hari ini ketika anda hidup sempurna telah membuat hari kemarin sebagai impian yg indah. Setiap hari esok adalah bayangan yg penuh harapan. Maka lihatlah hari ini”. (Kalidasa)

Wahai orang-orang yang terpejam matanya, Perkenankanlah kami, manusia-manusia malam menuliskan sebuah surat cinta kepadamu. Seperti halnya cinta kami pada waktu malam-malam yang kami rajut di sepertiga terakhir. Atau seperti cinta kami pada keagungan dan rahasianya yang penuh pesona. Kami tahu dirimu bersusah payah lepas tengah hari berharap intan dan mutiara dunia. Namun kami tak perlu bersusah payah, sebab malam-malam kami berhiaskan intan dan mutiara dari surga.

Wahai orang-orang yang terlelap, Sungguh nikmat malam-malammu. Gelapnya yang pekat membuat matamu tak mampu melihat energi cahaya yang tersembunyi di baliknya. Sunyi senyapnya membuat dirimu hanyut tak menghiraukan seruan cinta. Dinginnya yang merasuk semakin membuat dirimu terlena,menikmati tidurmu di atas pembaringan yang empuk, bermesraan dengan bantal dan gulingmu, bergeliat manja di balik selimutmu yang demikian hangatnya. Aduhai kau sangat menikmatinya.

Wahai orang-orang yang terlena,Ketahuilah, kami tidak seperti dirimu!!
Yang setiap malam terpejam matanya, yang terlelap pulas tak terkira. Atau yang terlena oleh suasananya yang begitu menggoda. Kami tidak seperti dirimu !! Kami adalah para perindu kamar di surga. Tak pernahkah kau dengar Sang Insan Kamil, Rasulullah SAW bersabda : “Sesungguhnya di surga itu ada kamar yang sisi luarnya terlihat dari dalam dan sisi dalamnya terlihat dari luar. Disediakan untuk mereka yang memberi makan orang-orang yang memerlukannya, menyebarkan salam serta mendirikan sholat pada saat manusia terlelap dalam tidur malam.” Sudahkah kau dengar tadi ? Ya, sebuah kamar yang menakjubkan untuk kami dan orang-orang yang mendirikan sholat pada saat manusia-manusia yang lain tertutup mata dan hatinya.

Wahai orang-orang yang keluarganya hampa cinta, Kau pasti pernah mendengar namaku disebut. Aku Abu Hurairah, Periwayat Hadist. Kerinduanku akan sepertiga malam adalah hal yang tak terperi. Penghujung malam adalah kenikmatanku terbesar. Tapi tahukah kau ? Kenikmatan itu tidak serta merta kukecap sendiri. Kubagi malam-malamku yang penuh syahdu itu menjadi tiga. Satu untukku, satu untuk istriku tercinta dan satu lagi untuk pelayan yang aku kasihi. Jika salah satu dari kami selesai mendirikan sholat, maka kami bersegera membangunkan yang lain untuk menikmati bagiannya. Subhanallah, tak tergerakkah dirimu ? Pedulikah kau pada keluargamu ? Adakah kebaikan yang kau inginkan dari mereka ? Sekedar untuk membangunkan orang-orang yang paling dekat denganmu, keluargamu ?

Lain lagi dengan aku, Nuruddin Mahmud Zanki. Sejarah mencatatku sebagai Sang Penakluk kesombongan pasukan salib. Suatu kali seorang ulama tersohor Ibnu Katsir mengomentari diriku, katanya, ” Nuruddin itu kecanduan sholat malam, banyak berpuasa dan berjihad dengan akidah yang benar.” Kemenangan demi kemenangan aku raih bersama pasukanku. Bahkan pasukan musuh itu terlibat dalam sebuah perbincangan seru. Kata mereka, ” Nuruddin Mahmud Zanki menang bukan karena pasukannya yang banyak. Tetapi lebih karena dia mempunyai rahasia bersama Tuhan”. Aku tersenyum, mereka memang benar. Kemenangan yang kuraih adalah karena do’a dan sholat-sholat malamku yang penuh kekhusyu’an. Tahukah kau dengan orang yang selalu setia mendampingiku ? Dialah Istriku tercinta, Khotun binti Atabik. Dia adalah istri shalehah di mataku, terlebih di mata Alloh. Malam-malam kami adalah malam penuh kemesraan dalam bingkai Tuhan.

Gemerisik dedaunan dan desahan angin seakan menjadi pernak-pernik kami
saat mendung di mata kami jatuh berderai dalam sujud kami yg panjang.
Kuceritakan padamu suatu hari ada kejadian yang membuat belahan jiwaku itu tampak murung. Kutanyakan padanya apa gerangan yang membuatnya resah. Ya Alloh, ternyata dia tertidur, tidak bangun pada malam itu, sehingga kehilangan kesempatan untuk beribadah. Astaghfirulloh, aku menyesal telah membuat dia kecewa. Segera setelah peristiwa itu kubayar saja penyesalanku dengan mengangkat seorang pegawai khusus untuknya. Pegawai itu kuperintahkan untuk menabuh genderang agar kami terbangun di sepertiga malamnya.

Wahai orang-orang yang terbuai, Kau pasti mengenalku dalam kisah
pembebasan Al Aqso, rumah Allah yang diberkati. Akulah pengukir tinta emas itu, seorang Panglima Perang, Sholahuddin Al-Ayyubi. Orang-orang yang hidup di zamanku mengenalku tak lebih dari seorang Panglima yang selalu menjaga sholat berjama’ah. Kesenanganku adalah mendengarkan bacaan Alqur’an yang indah dan syahdu. Malam-malamku adalah saat yang paling kutunggu. Saat-saat dimana aku bercengkerama dengan Tuhanku. Sedangkan siang hariku adalah perjuangan-perjuangan nyata, pengejawantahan cintaku pada-Nya.

Wahai orang-orang yang masih saja terlena, Pernahkah kau mendengar kisah penaklukan Konstantinopel ? Akulah orang dibalik penaklukan itu, Sultan Muhammad Al Fatih. Aku sangat lihai dalam memimpin bala tentaraku. Namun tahukah kau bahwa sehari sebelum penaklukan itu, aku telah memerintahkan kepada pasukanku untuk berpuasa pada siang harinya. Dan saat malam tiba, kami laksanakan sholat malam dan munajat penuh harap akan pertolongan-Nya. Jika Alloh memberikan kematian kepada kami pada siang hari disaat kami berjuang, maka kesyahidan itulah harapan kami terbesar. Biarlah siang hari kami berada di ujung kematian, namun sebelum itu, di ujung malamnya Alloh temukan kami berada dalam kehidupan. Kehidupan dengan menghidupi malam kami.

Wahai orang-orang yang gelap mata dan hatinya, Pernahkah kau dengar kisah Penduduk Basrah yang kekeringan ? Mereka sangat merindukan air yang keluar dari celah-celah awan. Sebab terik matahari terasa sangat menyengat,padang pasir pun semakin kering dan tandus. Suatu hari mereka sepakat untuk mengadakan Sholat Istisqo yang langsung dipimpin oleh seorang ulama di masa itu. Ada wajah-wajah besar yang turut serta di sana, Malik bin Dinar, Atho’ As-Sulami, Tsabit Al-Bunani. Sholat dimulai, dua rakaat pun usai. Harapan terbesar mereka adalah hujan-hujan yang penuh berkah. Namun waktu terus beranjak siang, matahari kian meninggi, tak ada tanda-tanda hujan akan turun. Mendung tak datang, langit membisu, tetap cerah dan biru. Dalam hati mereka bertanya-tanya, adakah dosa-dosa yang kami lakukan sehingga air hujan itu tertahan di langit ? Padahal kami semua adalah orang-orang terbaik di negeri ini ? Sholat demi sholat Istisqo didirikan, namun hujan tak kunjung datang.

Hingga suatu malam, Malik bin Dinar dan Tsabit Al Bunani terjaga di sebuah masjid. Saat malam itulah, aku, Maimun, seorang pelayan, berwajah kuyu, berkulit hitam dan berpakaian usang, datang ke masjid itu. Langkahku menuju mihrab, kuniatkan untuk sholat Istisqo sendirian, dua orang terpandang itu mengamati gerak gerikku. Setelah sholat, dengan penuh kekhusyu’an kutengadahkan tanganku ke langit, seraya berdo’a : “Tuhanku, betapa banyak hamba-hamba-Mu yang berkali-kali datang kepada-Mu memohon sesuatu yang sebenarnya tidak mengurangi sedikitpun kekuasaan-Mu. Apakah ini karena apa yang ada pada-Mu sudah habis ? Ataukah perbendaharaan kekuasaan-Mu telah hilang ? Tuhanku, aku bersumpah atas nama-Mu dengan kecintaan-Mu kepadaku agar Engkau berkenan memberi kami hujan secepatnya.”
Lalu apa gerangan yang terjadi ? Angin langsung datang bergemuruh dengan cepat, mendung tebal di atas langit. Langit seakan runtuh mendengar do’a seorang pelayan ini. Do’aku dikabulkan oleh Tuhan, hujan turun dengan derasnya, membasahi bumi yang tandus yang sudah lama merindukannya.

Malik bin Dinar dan Tsabit Al Bunani pun terheran-heran dan kau pasti juga heran bukan ? Aku, seorang budak miskin harta, yang hitam pekat, mungkin lebih pekat dari malam-malam yang kulalui. Hanya manusia biasa, tapi aku menjadi sangat luar biasa karena doaku yang makbul dan malam-malam yang kupenuhi dengan tangisan dan taqarrub pada-Nya.

Wahai orang-orang yang masih saja terpejam, Penghujung malam adalah
detik-detik termahal bagiku, Imam Nawawi. Suatu hari muridku menanyakan kepadaku, bagaimana aku bisa menciptakan berbagai karya yang banyak ?
Kapan aku beristirahat, bagaimana aku mengatur tidurku ? Lalu kujelaskan padanya, “Jika aku mengantuk, maka aku hentikan sholatku dan aku bersandar pada buku-bukuku sejenak. Selang beberapa waktu jika telah segar kembali, aku lanjutkan ibadahku.” Aku tahu kau pasti berpikir bahwa hal ini sangat sulit dijangkau oleh akal sehatmu. Tapi lihatlah, aku telah melakukannya, dan sekarang kau bisa menikmati karya-karyaku.

Wahai orang-orang yang tergoda, Begitu kuatkah syetan mengikat tengkuk
lehermu saat kau tertidur pulas ? Ya, sangat kuat, tiga ikatan di tengkuk lehermu !! Dia lalu menepuk setiap ikatan itu sambil berkata, “Hai manusia, Engkau masih punya malam panjang, karena itu tidurlah !!”. Hei, Sadarlah, sadarlah, jangan kau dengarkan dia, itu tipu muslihatnya ! Syetan itu berbohong kepadamu. Maka bangunlah, bangkitlah, kerahkan kekuatanmu untuk menangkal godaannya. Sebutlah nama Alloh, maka akan lepas ikatan yang pertama. Kemudian, berwudhulah, maka akan lepas ikatan yang kedua. Dan yang terakhir, sholatlah, sholat seperti kami, maka akan lepaslah semua ikatan-ikatan itu.

Wahai orang-orang yang masih terlelap, Masihkah kau menikmati
malam-malammu dengan kepulasan ? Masihkah ? Adakah tergerak hatimu untuk bangkit, bersegera, mendekat kepada-Nya, bercengkerama dengan-Nya, memohon keampunan-Nya, meski hanya 2 rakaat ? Tidakkah kau tahu, bahwa Alloh turun ke langit bumi pada 1/3 malam yang pertama telah berlalu. Tidakkah kau tahu, bahwa Dia berkata, “Akulah Raja, Akulah Raja, siapa yang memohon kepada-Ku akan Kukabulkan, siapa yang meminta kepada-Ku akan Kuberi, dan siapa yang memohon ampun kepada-Ku akan Ku ampuni. Dia terus berkata demikian, hingga fajar merekah.

Wahai orang-orang yang terbujuk rayu dunia, Bagi kami, manusia-manusia
malam, dunia ini sungguh tak ada artinya. Malamlah yang memberi kami
kehidupan sesungguhnya. Sebab malam bagi kami adalah malam-malam yang
penuh cinta, sarat makna. Masihkah kau terlelap ? Apakah kau menginginkan kehidupan sesungguhnya ? Maka ikutilah jejak kami, manusia-manusia malam. Kelak kau akan temukan cahaya di sana, di waktu sepertiga malam. Namun jika kau masih ingin terlelap, menikmati tidurmu di atas pembaringan yang empuk, bermesraan dengan bantal dan gulingmu, bergeliat manja di balik selimutmu yang demikian hangatnya, maka surat cinta kami ini sungguh tak berarti apa-apa bagimu. Semoga Alloh mempertemukan kita di sana, di surga-Nya, mendapati dirimu dan diri kami dalam kamar-kamar yang sisi luarnya terlihat dari dalam dan sisi dalamnya terlihat dari luar.
Semoga…

(Manusia-Manusia Malam)

(sumber : ratna.wordpress.com )

Leave a comment »

komputer ngadat

Wah lega dech rasanya. Dari semenjak pagi saya BT (bukan butuh tausyiah lho..) tapi memang bener-bener BT (bad temperament) bahasa anak gaulnya. Ciee.. Gimana tidak, pas pagi hari itu ketika menghidupkan my computer, tertulis di monitor bahwa driver sound card ana terhapus atawa hilang dari program software computer. Wuah…wuah…:( serasa langit mendung, guntur menggelegar, awan menghitam menutupi langit biru, angin menghembus kuat pertanda akan turun hujan yang lebat(*he he bo’ong deng, itu tandanya ana sedih) hiks hiks… Iya tuh, ketika sadar bahwa driver soundcard ana hilang berarti program-program multimedia gak bisa bunyi, gak ada suaranya. Itu artinya ana gak bisa denger winamp/mp3. wuah…wuah… (*pura-pura nangis*). Sedih kan kalo maen komputer gak bisa denger mp3-nya. Kagak seru euy! Ibarat makan sayur tanpa garam = tidak enak/hambar.

Secepat kilat ana langsung matiin komputer, trus sejurus kemudian ana langsung nyari-nyari dech driver-driver yang ada di tumpukan CD. Alhamdulillah… tidak berhasil ditemukan (kebayang makin merengut aja muka ana, untung aja kagak ada paparazi, sehingga mereka tidak mengabadikan wajah saya yang muram waktu itu, jadi wajah saya yang imut ini masih tetap orisinil dalam file-file foto mereka. Hahaha…).

Kembali ke.. Laptop…! (niruin gaya mas Tukul di acara 4 mata).
Yah… nyerah dech.. berarti ana hari ini, dan hari-hari berikutnya kagak bakalan dengerin mp3 nasyid nih, gak bisa dengerin SP, izzis, shou-har, hijjaz, dll. Sedih euy… kurang lebih begitulah kesimpulan ana pagi itu.

Pas siang ana beraktifitas seperti biasa, sempet hilang sih suasana BT-nya. Tapi ketika kembali pulang ke rumah dan liat komputer. Hm, jadi BT lagi dach. “Duh.. gimana yah?” Ana mikir-mikir. Hmm masak harus instal ulang nih komputer. Kalo diinstal ulang banyak data yang ilang dunks.

Setelah beberapa menit nyari gak ketemu-ketemu tuh driver (bukan driver supir nih). Akhirnya ana inget juga, drivernya kalo ga salah ana simpen di lemari. Sejurus kemudian ana nyari itu driver di lemari. Ealah… alhamdulillah akhirnya ketemu juga. Duh senengnya.. serasa ketemu dengan seorang kekasih yang lama tak bersua. Hehe.. Tanpa pikir panjang langsung ana instal lagi tuh driver soundcard. Hm… olala.. akhirnya komputer ana bisa ‘bernyanyi’ lagi. Alhamdulillah makasih ya Alloh.. kirain drivernya hilang. Kalo hilang gaswat juga. Bisa-bisa seumur hidup bisu tuh komputer.

Makanya Gum, nyimpen CD program kudu bener jangan ditaro sembarangan. Ok deh.. lain kali ana nyimpen di tempat yang aman.

Wallahu a’lam

Leave a comment »

ESOK GILIRAN KITA?

Bila Izrail datang memanggil
Jasad terbujur di pembaringan
Seluruh tubuh akan menggigil
Sekujur badan nan kedinginan
Tiada lagi gunanya harta, kawan, karib sanak saudara
Jikalah ada amal di dunia itulah hanya pembela kita
Janganlah mau disanjung-sanjung
Engkau digelar manusia agung
Sedarlah diri tau diuntung
Sebelum masa keranda diusung
Datang masanya insyaflah diri
Selimut putih pembalut badan
Tinggal semua yang dikasihi
Berjuanglah hidup sepanjang zaman

Sengaja saya menukilkan lirik hijaz yang berjudul selimut putih. Sebagai bahan renungan bahwa masalah hidup seseorang tidak ada yang tahu pasti. Kita tidak tahu kapan malaikat maut akan mencabut nyawa kita. Apakah kita akan wafat dalam keadaan beriman kepada Allah atau dalam keadaan ingkar kepada Allah swt.

Setelah mendengar tiga berita duka berurutan. Yang pertama berita meninggalnya orang yang sudah saya anggap nenek karena beliaulah yang mengasuh saya waktu kecil. Yang kedua berita meninggalnya salah satu family saya di Garut, dan yang ketiga meninggalnya tetangga saya, padahal kalau melihat usia, tetangga saya itu masih cukup muda. Tiga berita duka itu cukup membuat hati ini sepertinya terpaksa diingatkan bahwa kematian kapanpun, dimanapun siap menjemput. Tiba-tiba menyeruak dalam hati berbagai pertanyaan kepada diri sendiri. Sudah siapkah bila diri ini dijemput kembali ke hadirat Ilahi Rabbi? Bisakah saya menjawab pertanyaan-pertanyaan Malaikat di alam kubur? Amal apakah yang akan menemani saya ketika di alam kubur yang sempit dan gelap?

Berbagai pertanyaan pun bermunculan dalam hati, apakah diri ini sudah siap bila tiba-tiba dipanggil oleh Allah swt. Jawabannya pasti belum siap! Pertanyaan itu menggiring saya untuk menerima kesadaran sementara. Saya mengatakan ‘kesadaran sementara’ karena ‘kesadaran’ ini sifatnya sementara, bisa jadi dua atau tiga jam lagi saya sudah lupa tentang ‘kesadaran’ ini.

Sebelum diri ini mengalami hisab atau pengadilan akhirat, alangkah bijaknya bila kita mencoba bermuhasabah diri, menghisab diri kita sendiri. Apakah jiwa, pendengaran, penglihatan dan hati kita lebih banyak digunakan untuk melakukan maksiat daripada digunakan untuk mencapai keridhoanNya. Karena bukankah semuanya yang ada pada diri kita adalah titipan dari Allah swt, sebagai cobaan apakah kita akan menggunakannya untuk kebaikan atau keburukan.

Kematian itu pasti terjadi. Ada saat dimana mata yang digunakan untuk melihat ini akan menutup selama-lamanya. Akan ada saat dimana jantung kita yang terus berdenyut ini akan berhenti. Akan ada suatu masa dimana mulut ini tidak bisa lagi mengucapkan takbir, tahmid, tahlil dan tasbih. Akan ada suatu masa dimana mulut ini tidak akan bisa lagi membaca ayat-ayat Al-qur’an.

Hai diri, hisablah dirimu sendiri sebelum dihisab oleh Rabb mu. Bukankah akan ada suatu masa dimana kening ini tidak bisa lagi bersujud (sholat). Bukankah akan ada suatu masa dimana tanganmu tidak bisa lagi melakukan kebaikan memberi orang-orang fakir. Dan bukankah akan ada suatu masa dimana kakimu tidak bisa digunakan untuk berdiri (sholat) atau digunakan untuk melangkah ke mesjid atau majelis ta’lim. Lalu mengapa kita menyia-nyiakan kesempatan yang telah diberikan Allah swt.

Hai diri, ingatlah! Ketika nyawa telah tercabut dari jasadmu, tidak akan ada lagi kesempatan untuk bertaubat, tidak akan ada lagi kesempatan untuk berbuat amal soleh. Ketika diri telah terbujur kaku, dimandikan oleh sanak saudara, disholatkan, dibungkus oleh dua helai kain putih. Ya, kain kafan. Bukan dengan bajumu yang mahal. Kemudian mayat yang tak berdaya itu diusung dengan keranda menuju pembaringan terakhir. Sebuah lubang yang akan menjadi tempatmu bersemayam, ukurannya tidak lebih dari 2 x 1 meter. Tempat yang lembab, gelap. Rumahmu yang terakhir adalah kuburan bukan rumah mewah atau apartemen yang sering kau banggakan. Apakah hartamu yang banyak itu ikut menemanimi di alam barzakh? Tidak! Lalu siapakah yang paling setia menemanimu di alam kubur itu? Apakah istrimu yang setia ikut menemanimu? Apakah hartamu? Semua tidak ada yang setia kecuali amal solehmu.

Saya tidak sanggup lagi meneruskan kalimat-kalimat selanjutnya. Semakin saya mengetik malah semakin takut diri ini. Bukan! Bukan takut akan mati, tapi takut apakah diri ini mampu menjawab pertanyaan-pertanyaan malaikat. Takut bila amal soleh yang tak seberapa ini tidak sanggup membela saya di alam kubur. Jadi, mulai saat ini mari kita menabung amal soleh agar mendapatkan yang terbaik setelah kita meninggalkan dunia yang fana ini. Mendapatkan yang terbaik setelah kita meninggal, berjumpa dengan Rabb, mendapat Ridho dan surgaNya yang kekal.

Wallahu a’lam bisshawab

NB : Mengingat kematian adalah satu bahan bakar ghiroh beramal agar tetap menyala tidak padam disiram oleh kemalasan/futur

Leave a comment »

‘GADO-GADO’ RASA HATI

Bismillahirrahmanirrahim.
ba’da tahmid wassholawat
Bagi orang dewasa normal adalah suatu hal yang biasa untuk suka atau cinta kepada lawan jenisnya; antara seorang ikhwan kepada seorang akhwat atau antara seorang ikhwan ke beberapa orang akhwat (he..he..he..). Itu mah masih normal, yang ‘gak normal cinta antara seorang ikhwan kepada seorang ikhwan atau sebaliknya akhwat cinta sama akhwat (lesbi).Lha… koq bisa.. nanti ada kisah kaum Nabi Luth episode 2 dong… Cinta memang dahsyat, cinta bisa melanda siapa saja, kapan saja dan dimana saja. Cinta bisa membuat orang yang lemah menjadi kuat, sebaliknya cinta juga bisa membuat orang kuat menjadi lemah yang hanya tunduk pada nafsu cinta saja. Bahkan seorang Hitler “Sang Diktator” terkejam & penakluk Eropa pada perang dunia II tetap saja dihadapan seorang wanita bernama EvA Brown bersikap lemah. Mungkin Anda juga tahu Napoleon Bonaparte “Singa Daratan Eropa”, pasukan Kavaleri berkuda pimpinannya ditakuti oleh orang-orang Eropa, Ealah.. ternyata dia bersikap patuh pada seorang wanita bernama Josephine. Nurut gitu lho… Wah memang kalau bicara yang namanya cinta tidak ada habisnya. Sejarah telah mencatat bahwa pembunuhan pertama di dunia ini terjadi karena adanya rasa cinta yang bercampur dengan rasa cemburu. Bahkan Qabil tega sekali membunuh saudaranya Habil atas nama cinta (cemburu). Yah begitulah cinta.. cinta kadang bisa membuat orang menjadi mulia tapi bisa juga terhina bahkan lebih hina daripada binatang-binatang ternak.

Mengutif pendapat ustadz Wahyu, bahwa cinta itu adalah FITRAH sekaligus juga UJIAN. Cinta bersifat FITRAH karena sejak dari awalnya ‘rasa’ ini telah Allah ciptakan untuk setiap mahluknya di dunia, dengan begitu keberlangsungan mahluk-Nya tetap eksis. Cinta juga bersifat UJIAN dan sebenarnya cinta itu bukan perkara dosa. Bahasanya seorang ustadz. ‘Gak mukallaf, jadi gak bisa dilekati hukum’, Yang bisa dikatakan dosa adalah ketika perasaan itu diekspresikan dengan cara yang tidak dikehendaki-Nya.(kalimat ini saya kutip dari saudari Jaziemah Al-Muhyi, penulis terkenal dari FLP). Cinta yang gak boleh contohnya cinta antara ikhwan dan akhwat yang didasari nafsu tanpa melalui jalan yang syar’i, cinta ini jelas terlarang. Namun nilainya akan berbeda manakala disalurkan sesuai aturan-Nya yaitu NIKAH. Sungguh beruntung orang yang sudah menikah karena Selain di dalamnya terdapat hal-hal yang ‘menyenangkan’ juga terdapat nilai ibadah. Bahkan (maaf) ‘bergaul’ dengan istri itu ibadah, istri melayani suami, menyiapkan sarapan, mencuci pakaian suami itu semua bernilai ibadah. Sementara sang suami memandang wajah istri sepuasnya dan membuat istri tersenyum bahagia itu bernilai shodaqoh, suami juga bila menafkahi istri itu ibadah. Pokok’e semua yang kita lakukan terhadap istri dengan ridho karena Allah maka akan bernilai ibadah. Insya Allah!

By The way busway..

Tidakkah kita prihatin dengan kondisi anak muda sekarang ? Dimana saat ini pacaran sudah menjadi budaya, narkoba dan Freesex menjadi gaya hidup, dan tawuran sudah menjadi tren, sementara baju-baju yang mengumbar aurat sudah jadi mode. Gaya hedonis dan materialistik sudah jadi pilihan hidup, tengoklah kehidupan anak muda sekarang, mereka lebih banyak yang pergi ke bioskop ataupun nongkrong di mal-mal daripada pergi ke majelis taklim, mereka lebih senang membaca majalah atau koran-koran yang jahil daripada membaca dan mengkaji kitab suci Al-Qur’an, mereka lebih bangga mengikuti gaya hidup orang-orang kafir daripada mengikuti perilaku dan sunah-sunah yang telah diajarkan oleh Rasulullah Muhammad saw. Mereka lebih mengidolakan tokoh-tokoh atau filosof-filosof seperti Bapak “Nenek Moyang Bangsa Kera” Charles Darwin, Bapak Ateis Yunani Kuno Emenuel Khan, fasis, dedengkot materialis modern Karl Marx, Sigmund Freud, Lenin, ataupun ‘hero-hero’ Diktator sosialis seperti Stalin, Hitler dengan ideologi fasis, che guevera, Mao Tse Tung. Sementara itu jarang dari mereka mengidolakan Rasulullah saw, sahabat-sahabat Khullafaur Rasyidin, atau pun para Tabi’it tabi’in, pemimpin yang bijak Umar bin Abdul Aziz, Harun al-Rasid, cendekiawan muslim seperti Aljabar, Ibnu Sina, Ahli Trigonometri Abu Raihan Al-Biruni, penemu Algoritma Ibnu Musa Al-Khawarizmi. Tokoh gerakan ikhwanul muslimin macam Hasan Al-Bana, Said Hawwa, Sayyid Quthb, Al-Imam Mursyid, Abdul Kadir Audah, Hasan Hudaibi de el el.

Sementara itu mereka lebih mengenal selebritis dari Hollywood sampai Bollywood. Dari Johny Deep,Tom Cruise, Russel Crow, Ben Afleck, Jenifer Aniston, Kiera Knightley, Dian Sastro, Luna Maya (Ups, salah, itu mah artis Indon, mas). atawa aktor Bollywood macam Shah Rukh Khan, Sashi Kapor, Amitabhacan, Karinaa Kapoor Salman Khan, Arjun, …, Rani Mukherjee dkk. Dari artis Film Tittanic ‘Kate Winslet’ sampai artis Ti Tasik Itje Trisnawati, bahkan artis pendatang baru Alam Raja Dangdut Punk juga mereka tahu. Sebenarnya tidak ada masalah mengetahui seleb-seleb tersebut yang tidak boleh itu mengikuti gaya hidup mereka yang jauh dari tuntunan Syari’at. (Maaf, saya tidak menuduh Alam, Itje jauh dari tuntunan, namun yang saya maksud hanyalah seleb-seleb barat. OK?).

Bahkan yang paling parah adalah manakala kita lebih men-dewa-dewakan ‘idola-idola’ itu daripada berada dalam naungan Yang Maha Memiliki, Maha Pencipta yaitu Allah swt. Contoh konkret berikut ini bisa jadi terjadi pada saudara-saudara atau tetangga-tetangga kita. Beritanya saya kutip dari satu majalah nasional di Indonesia. dan menurut saya ini adalah peristiwa bodoh yang pernah ada sepanjang sejarah manusia. Peristiwanya belum lama, sekitar bulan Maret tahun ini. Katanye, seorang slanker di Bogor bunuh diri gara-garanya ia nggak mampu beli kaset Slank yang baru. Slank emang ngeluarin album baru. Tau sendiri kalo band asal potlot ini setiap kali ngeluarin album baru, selalu dikejar-kejar ama penggemar fanatiknya. Tapi, halah.., entah nyari sensasi doang atawa gimana tuh bocah, yang pasti dalam surat wasiatnya dia sangat memohon kalo di pusaranya diputerin lagu Slank yang baru. Aduh, geleng-geleng kepala dah kita. Padahal kalo sekedar minta satu biji kaset mah, datengin Bimbim Slank aja pastilah dikasih. Hi… serem dech! Kebayang…Nanti pas ditanya sama Malaikat Munkar Nakir. “Man Robbuka???!!!” nanti jawabannya malah “Ku tak bisa… Jauh… Jauh…(Lirik lagu slank). Wah, Na’udzubillah. Duh.. Don’t try this guys.

Eh, Koq jadi ngelantur ya ceritanya? Maaf..maaf..maaf.. balik ke jalan yang benar lagi, deh. Gak apa-apa ya, namanya juga Hati rasa gado-gado. Jadi becampur geto.. Ada kacang panjang, toge, lontong, tahu, kol, bumbu kacang, gula, garam, wah pokona mah banyak dech yang penting rasa’e ueenaak tenan… maksudnya..Gak, apa- apa ya campur tulisannya dari mulai ngebahas cinta, sejarah, selebritiis, sampe ngebahas orang yang mati konyol. Yang penting tulisannya panjang.

***
Penulis pernah baca suatu hadist yang isinya kurang lebih sebagai berikut. Rasulullah saw bersabda, suatu hari nanti kondisi umat islam bakalan seperti senampan makanan yang sedang dikelilingi oleh para serigala, padahal jumlah mereka banyak namun mereka kayak buih di lautan, mereka punya kelemahan yaitu cinta dunia dan takut mati.
……
Penulis merenung, betapa benar adanya antara ‘ramalan’ hadist tersebut dengan kondisi umat islam saat ini. Di Indonesia meski jumlah umat islam begitu besar bahkan tercatat sebagai yang terbesar di dunia, namun apa pengaruhnya bagi kemashlahatan umat? Ternyata nol besar. Padahal, seandainya umat islam kembali ke jalur yang benar, yaitu menegakkan kembali hukum berdasarkan al-quran dan sunnah rasul, kejayaan islam akan kembali terwujud, panji-panji kemenangan islam akan kembali berkibar. Agama islam sebagai Rahmatal lil ‘alamin’ tentunya bukan hanya sebuah isapan jempol belaka.

Coba tengok sejarah…Bagaimana ketika islam berjaya.
Ketika kehidupan jahiliah melanda negeri jazirah arab, ketika seorang Arab akan merasa hina karena mempunyai seorang bayi wanita, ketika nasib hanya ditentukan oleh anak panah, ketika budaya mabuk-mabukan menjadi solusi permasalahan, judi menjadi kebiasaan, riba menjadi pekerjaan. Bukankah islam datang memberi pencerahan, islam datang menerangi wajah kegelapan jaman jahiliah. Beberapa puluh tahun kemudian islam menjadi sebuah peradaban besar yang maju di segala aspek.

Tahukah? ketika Baghdad disibukkan dengan kegiatan penelitian dalam berbagai bidang seperti ilmu perbintangan, matematika, filosopi, kedokteran. Ternyata Kota London masih berada pada periode jaman Feodal. Maksudnya ketinggalan jaman, Bo!. Kalau Anda pernah maen Games PC yang judulnya “Age of Empire 2”. Pasti anda tahu? Periode-periode jaman yaitu Dark Age, Feudal Age, Castle Age,& Imperial Age. Nah, analoginya begini. Negeri-negeri islam sudah memasuki periode Castle Age dengan bangunan-bangunan bergaya arsitektur, ternyata negeri-negeri eropa masih jamannya periode Feudal Age. Artinya peradabannya ketinggalan jaman beberapa belas tahun! Dan menurut sejarah lagi, kata yang empunya cerita, Negeri-negeri Eropa mengalami kemajuan peradaban setelah mereka berinteraksi dan bertempur habis-habisan melawan kaum muslim di tanah Palestin dalam “Crussade War” (perang Salib). Mereka (Bangsa Eropa) baru nyadar bahwa selama ini, bangsa Muslim yang berada di Timur kerajaan yang mereka anggap bangsa barbar ternyata mempunyai peradaban lebih maju daripada peradabannya sendiri.

Cerita lainnya, Ketika masjid-masjid sudah bermandikan cahaya, dengan bangunan-bangunan gaya arsitektur yang tentunya selain kokoh tetapi sarat dengan makna keindahan ternyata di penjuru bumi lainnya. Kota-kota di eropa masih bergelut dengan cerita-cerita takhayul, kota-kota eropa masih dilanda ketakutan akan kutukan-kutukan penyakit berupa kusta, cacar, herpes dll.

Ketika Taman-taman perpustakaan negeri-negeri islam dipenuhi oleh para mahasiswa yang bergelut mencari ilmu, ketika para cendekiawan-cendekiawan islam sibuk dengan diskusi-diskusi ilmiah tentang kekuasaan Allah dalam bumi, udara, langit dll. Ternyata kerajaan-kerajaan eropa masih disibukkan dengan sistem feodalisme dan kebodohan.

Tetapi sangat disayangkan, ya! Justru peradaban besar, sekarang ternyata milik orang-orang barat, Eropa dan sekutu-sekutunya… Sedih juga… hiks..

Lalu mengapa umat islam sekarang seperti buih di lautan, terhempas kesana kemari, tidak berwibawa, tidak mempunyai kekuatan. Salah satu Jawabannya adalah karena umat islam telah jauh dari tuntunan Al-Qur’an dan sunah. Umat islam lebih mencintai dunia dan takut terhadap mati. Islam hanya dilaksanakan sebagai rutinitas. Islam hanya melaksanakan rukun islam saja, mereka memisahkan antara agama dengan kehidupan bernegara. Kehidupan sekuler, hedonis, materialis telah menjalar ke segala aspek kehidupan. Mereka lebih mengutamakan kebebasan dan HAM di atas kewajiban dirinya terhadap Tuhannya. Padahal bukankah islam telah mengajarkan bahwa setiap aspek kehidupan harus didasarkan pada syari’at. Islam mengatur segala aspek kehidupan, semua tata cara dilakukan berdasarkan Al-quran dan sunnah. Islam memberikan kita tuntunan dari bagaimana cara kita masuk WC sampai pengaturan ideologi pemerintahan, dari kita bangun tidur sampai tidur kembali.

Lalu, gimana dunks?

Nah Lho,

Merujuk pada hadist Nabi SAW. Bahwa kita diwariskan dua perkara oleh beliau, yang apabila kita taat pada dua hal itu maka umat muslim akan selamat di dunia dan akhirat. Tidak hanya selamat, tapi juga akan kembali menata puing-puing keruntuhan umat menuju kembali pada kejayaan islam, seperti yang dijanjikan oleh Allah. Kemenangan islam tinggal tunggu waktu. Janji Allah itu pasti!. Tinggal bagaimana kita sendiri? Apakah kita akan ikut menata kembali kejayaan islam? Atau hanya sebagai penonton saja. Setiap kita tinggal memilih. Apakah kita akan menjadi pemeran-pemeran utama? menjadi seorang figuran? Atau hanya puas menjadi seorang penonton? Tentunya menjadi pemeran utama dunks!

So, mulai sekarang akang-akang, teteh, neng, mas, jeng, mbak, yu ah kita jadi bagian tak terpisahkan dalam membangun kembali puing-puing kejayaan islam. Seperti kata Aa Gym, kalo belum mampu merubah bangsa, ya mulai lah dari diri sendiri, mulai dari hal yang kecil dan mulai saat ini. Memang kita hanyalah suatu titik. Tapi titik berkumpul dengan titik lainnya berubah menjadi huruf. Huruf bersatu dengan huruf lainnya menjadi kata, kata berkumpul dengan kata lainnya menjadi kalimat. Kalimat-kalimat berkumpul menjadi tulisan, buku. Dll. yang akan merubah, menggugah, dan mengubah persepsi seseorang dan perilaku setiap orang. So tunggu apalagi? Yuk….!
wallahu a’lam

Comments (1) »