Adalah Saksi*

Antara Mekah Madinah
Antara kemewahan dan keimanan
Dari darah dan tangisan
Rasul dan Kaum Muslimin
Berjalan mencari perlindungan
Demi tegakkan kebenaran
Dengan tetap tersimpan senyum keikhlasan
Menjadi saksi bagi Muharram

Diantara nyawa para syuhada
Islam tetap berjaya
Pengorbanan yang terjual dengan surga

Diantara kita manusia tiap masa
Islam hendak diporak-poranda
Masih saja tersimpan ketakutan membela

Muharram…
Adalah saksi kaki rasul
Saksi para Muhajirin
Saksi para syuhada
Dan harus juga bagi kita!
Karya : M. Ali Sadikin
*: Pemenang I Cipta Puisi Islami yg diadakan RMNA (Remaja Masjid Nurul Amal Cibogo-Ciranjang)

Comments (1) »

Untukmu yang terbaik, ibunda…

La Tahzan yaa ummi… (jangan bersedih ibunda…). Karena ternyata islam begitu memuliakanmu.

Mengenang kebaikan ibunda bagaikan memutar film terbaik yang tak pernah berakhir. Seperti cerita hikmah yang sangat panjang, terhiasi oleh untaian cinta yang tidak ada putus-putusnya, mengalirkan kasih sepanjang jalan. Episodenya dimulai dengan kerelaan, keikhlasan dan kesabaran selama 9 bulan mengandung. Dalam pandangan Allah pahalanya mungkin setara dengan seorang prajurit yang sedang berpuasa sambil berperang di Jalan Allah swt.

Ketika melahirkan ananda perjuanganmu begitu dahsyat, seperti meregang nyawa antara derita sakitnya neraka. Namun bunda tersenyum bahagia manakala ananda lahir ke dunia dengan selamat. Rasa sakit terhapus berganti bahagia tatkala mendengar jeritan sang bayi. Senyummu terukir, seolah-olah mendapatkan hadiah dari Sang Pemilik Surga.

Beranjak balita ketika ananda menangis, bundalah yang selalu menyediakan pelukan hangat untuk membuatku merasa nyaman. Engkau selalu menyempatkan waktu menemani diriku ketika aku sakit. Dan bukankah engkau juga tidak rela bila ada satu nyamuk yang menggigit tubuhku ketika aku tertidur dalam pulasku, bunda…

Duhai ibunda, karena pengorbananmu yang sangat besar, sampai-sampai Allah membuat aturan yang sempurna dalam firman-Nya. Bagaimana Allah memuliakanmu, menyuruh diri-diri ananda menghormati ibu/orang tua. (Q.S Luqman:14), (Q.S An-Nisa:36), (Q.S Al-Ahqof:15), (Q.S Al-isra 23-24), (Q.S Al-Anam:151). Tidak cukup itu, Rasul pun bersabda bahwa yang pertama-tama harus ananda hormati adalah engkau, ibunda. Bahkan tiga kali beliau sebut engkau, baru kemudian ayahanda. Banyak hadist yang membahas tentangmu ibunda, dan bukankah Rasul pun pernah bersabda dalam satu hadist dengan kalimat kiasan: “Surga berada di telapak kaki ibu”.

Banyak… sungguh teramat banyak cinta ibunda yang melahirkan kisah-kisah teladan. Telah engkau hadirkan ulama-ulama besar seperti Imam Abu Hanifah, Imam Syafi’i, Imam Ahmad bin Hambal, Imam Bukhari. Masih banyak lagi. Semua terpoles oleh didikan para ibunda sebagai madrasah pertama.

Duhai ibunda…
Maafkan jika mata ini pernah sinis memandang, lidah yang pernah terucap kasar hingga membuat luka hatimu. Maafkanlah pula kalau kesibukan ananda menghalangi do’a terhatur untukmu. Ampuni diri ananda yang tak pernah bisa membahagiakanmu, ibunda…

Sungguh, jiwa dan jasad ini ingin terbang menjulang ke angkasa lalu luruh di pangkuanmu, menangis bersimpuh di hadapanmu. Hingga terhapuskan kerinduan hati mengalirkan bulir-bulir bening di sudut mata sebagai tanda pengakuan atas kasih sayangmu.

Duhai ibunda…
Seberat apapun, sebanyak apapun amal ini tak akan mampu imbangi jasa-jasamu. Sel-sel darah yang mengalir di nadiku, irama detak jantungku, desahan setiap nafas, rambut yang terurai di badanku. Semuanya adalah saksi bisu atas kebaikanmu. Semoga semua amal kebaikanmu terhadap ananda jadi pemberat timbangan amal kebaikanmu di akhirat. Ah, begitu indahnya pengorbananmu. Indah… semua indah dalam alunan cintamu, menelisik lorong-lorong hati dan jiwa yang rindu kasih sayangmu.

Duhai ibunda…
Bukalah pintu ridhomu, hingga Allah pun meridhoiku
Ananda do’akan semoga ibunda tetap jadi wanita yang mulia, jadi wanita yang bertakwa, dan selalu menjalankan perintah agama agar kelak menjadi bidadari-bidadari penghuni surga. Amin…
Untukmu yang terbaik, ibunda…
Wallahu a’lam

Kenzi Al-Khalid

Leave a comment »

Yu ah menulis…

Bismillahirrahmanirrahim
ba’da tahmid wassholawat.
Berapa umur Anda sekarang? Ayo hitung lagi… lihat di KTP tahun berapa kita lahir? Setelah kita mengetahui umur biologis/KTP, sekarang coba kita hitung berapa umur ma’nawi kita. Berapa waktu kita yang digunakan untuk beribadah ? Aduh, berapa ya? Aih… aih.. jadi malu… kata Imam Ghazali sih untuk tidur saja kita menghabiskan waktu 20 tahun. Wuah… katanya mengharap surga+bidadari yang jelita tapi 1/3 umur kita saja dihabiskan untuk tidur. Lha Ibadahnya kapan? Hiks hiks padahal Kalo dihitung-hitung, masing-masing waktu kita sama: 60 detik dalam 1 menit, 60 menit dalam 1 jam dan 24 jam sehari, 7 hari per pekan dan seterusnya.

Kalau dipikir-pikir, boleh jadi umur kita sudah sampai belasan tahun, puluhan tahun, atau bahkan ratusan tahun (hehe yang ini gak mungkin kale…). Tapi coba hitung dech, berapa kontribusi umur kita untuk kebaikan? Berapa lama waktu kita yang digunakan untuk Alloh sang khalik, untuk agama kita? Ah… sepertinya tidak sampe 10 tahun. Lalu bagaimana agar umur yang singkat ini bisa mencapai keabadian? Tenang saja, bisa kok.

Kamu pasti tahu dong Imam Ghazali? Umur Imam Ghazali hanyalah sekitar 55 tahun secara biologis, tapi secara ma’nawi Imam ghazali masih hidup sampai sekarang. Bahkan sampai kiamat pun namanya insya Alloh tetep hidup. Itu dikarenakan tulisan-tulisan beliau banyak dibaca umat dari zaman ke zaman. Subhanalloh… keabadian Imam Ghazali didapat dari ilmu-ilmu beliau yang dirangkum dalam kitab-kitab yang bermanfaat. Contoh lain adalah Syekh Imam Nawawi, umur Syekh Nawawi tidak lebih dari 45 tahun secara biologis tapi secara ma’nawi beliau tetap hidup sampai sekarang bahkan juga sampai hari kiamat. Karena apa? Buku atau kitab-kitab beliau dibaca, dipelajari dan diamalkan umat dari zaman ke zaman. Subhanalloh… bukankah itu suatu keabadian pahala dari tulisan?

Lalu mengapa saya berani mengatakan bahwa pahala menulis adalah pahala keabadian. kata keabadian, merujuk kepada hadits nabi tentang amal yang tiada terputus. Sesungguhnya apabila setiap anak Adam telah mati, terputuslah amalnya kecuali tiga: shodaqoh jariyah, ilmu yang bermanfaat, dan do’a anak yang sholih. Nah, setidaknya, menghasilkan tulisan masuk dalam kategori ilmu yang bermanfaat. Tulisan dapat menjadi semacam passive income (passive income merujuk kepada istilah yang digunakan Robert T Kiyosaki pada bukunya Cash Flow Quadrant. Istilah ini berarti penghasilan yang diperoleh tanpa harus bekerja, seperti deposito, reksadana dan lain-lain). Tatkala kita sudah tidak mampu beramal lagi, Allah masih mencatatkan pahala apabila tulisan kita masih menginspirasi orang lain untuk berbuat baik.

Jadi mulai saat ini, jadikan tulisan-tulisanmu menjadi penerang bagi kegelapan, pelepas dahaga bagi kehausan. Intinya jadikan dirimu bermanfaat bagi orang lain. Rosul pun bersabda yang diriwayatkan Ath-Thabrani dari Ibnu Umar ra: “Perumpamaan seorang mukmin adalah seperti sebatang pohon kurma. Apapun yang kamu ambil darinya akan memberikan manfaat kepadamu.

Jadilah seperti air yang suci menyucikan, bergerak untuk menghidupkan, mengalir untuk kebaikan, memancar dengan kekuatan, dikelola menjadi pembangkit energi dahsyat kehidupan. Itulah pilar kesuksesan, kunci kebahagiaan dengan menebar kebaikan, salah satunya lewat tulisan. Insya Alloh. Selamat berjuang untuk Ikhwah Fillah. Jadikan goresan penamu penegak keadilan, pencegah kemunkaran, penyeru kebaikan. jadikan tinta penamu pemberat amal kebaikan di yaumul hisab. Akhirul kalam. wassalam

Wallahu a’lam
Kenzi Al-Khalid

Leave a comment »

NASYID ITU SPIRITUAL EDUTAINMENT

Beberapa tahun lalu nasyid merupakan sebuah entertainment terbatas tersendiri di kalangan orang-orang tertentu dan hanya terkenal pada pasar tertentu saja, terutama para aktifis dakwah. Namun seiring perkembangannya, ternyata nasyid menjelma menjadi suatu edutainment yang mempunyai posisi tertentu sebagai media seni, hiburan dan tentu saja nilai edukasi spiritualnya sebagai esensi utamanya. Sekarang, penikmat nasyid tidak terbatas di kalangan para aktivis saja, nasyid telah menjadi hiburan di kalangan masayarakat umum. Masyarakat begitu terwarnai dengan munculnya munsyid-munsyid baru yang kaya akan kreatifitas dan inovasi-inovasi baru tanpa menghilangkan unsur spiritualitasnya.

Alhasil, kreatifitas dan inovasi-inovasi ini menghasilkan warna dan genre tersendiri terhadap nasyid itu sendiri. Kalau beberapa tahun lalu, mungkin kita hanya mengenal jenis nasyid accapella saja, dengan pioneernya di Indonesia yaitu Grup nasyid Snada. Tidak lama muncul aliran baru berupa aliran haroki, yang terkenal dengan nuansa harokah(pergerakan) dan semangat jihadnya. Aliran ini pertama kali diusung oleh grup nasyid Izzatul Islam. Tidak bisa dipungkiri kedua grup ini (snada & izzis) memberikan warna tersendiri bagi warna nasyid Indonesia. yang akhirnya bermunculanlah grup-grup nasyid baru.

Serbuan munsyid-munsyid dari negeri Jiran Malasyia malah lebih meramaikan blantika musik Indonesia. Dengan dimotori oleh Raihan, warna nasyid Malasyia lebih dulu mendapat tempat di kalangan masayarakat umum di Indonesia. bahkan kalau tidak salah, grup nasyid Raihan lebih dahulu mendapatkan penghargaan platinum di negara Indonesia dibandingkan grup nasyid asli Indonesia sendiri.

Setelah berakulturasi (meminjam istilah budaya; yang artinya bercampur menghasilkan sesuatu yang baru). Kemudian muncullah genre-genre nasyid baru yang bahkan lebih dekat dengan genre musik populer dan alternatif. diantaranya nasyid pop, nasyid kustik, dll. Diantara beberapa grup nasyid papan atas yang penulis kenal yaitu Shaff-fix, Edcoustic, Justice Voice, Star 5.

Terlepas ada yang berpendapat ke luar jalur nasyid atau tidak, tapi sebenarnya pesan-pesan spiritual dan dakwah tetap menjadi bagian paling penting dari nasyid sekarang. Liriknya tetap saja kebanyakan bercerita tentang amar ma’ruf nahi munkar, ma’rifatullah, marifaturrasul, dan kekaguman terhadap alam. Walaupun tetap saja ada yang berwarna pink, bias tentang cinta dua insan.

Bila dibandingkan dengan jenis musik biasa, tentu saja jauh berbeda. Jenis musik biasa (musik cadas, pop, alternatif apalagi dangdut) kebanyakan bertemakan percintaan, kesedihan, dsb. Ini tentu saja bisa berdampak negatif bagi orang-orang yang mendengarnya. Liriknya juga kering akan nilai-nilai spiritualitas, apalagi dangdut dengan gerakan-gerakan erotisnya. Terkesan kampungan dan menjijikan. Makanya tidak usah heran bila banyak penyanyi biasa yang mengalami stress! Bahkan tidak sedikit yang terseret narkoba dan berujung di penjara dan liang kubur alias bunuh diri. Menggenaskan!. Contohnya Kurt Cobain (vokalisnya Nirvana), stress dengan narkoba akhirnya mengakhiri hidup dengan bunuh diri.

Berbeda dengan para munsyid, penulis melihat ada sisi keberkahan dari kehidupan para munsyid. Terkesan damai. Hal ini terjadi mungkin karena nilai-nilai spiritual yang terdapat pada liriknya mampu mengubah paradigma berpikir sehingga tidak mudah stress, malah yang ada selalu bersyukur dan bertafakur. Nilai idealisme dari nasyid itu sendiri adalah nilai positifnya. Ya, nasid itu Spiritual Edutainment, media hiburan yang mendidik dan mendekatkan diri kepada Rabbnya.

Wallahu a’lam

Kenzi Al-Khalid

Comments (3) »

Dag dig dug 2 x 45 menit

Momentum yang tepat untuk memperhatikan emosi yang berfluktuatif adalah saat menonton sepak bola. Saya sendiri sering merasakan ketika menonton bola terutama pertandingan Indonesia ataupun Persib Bandung. Menit demi menit jantung semakin berdegup kencang, adrenalin memuncak, emosi naik turun, kadang-kadang berteriak-teriak sendiri mencemooh pemain tim kesayangan bermain bodoh dan konyol. Kadang-kadang memuji-muji pemain tim kesayangan bila bermain cantik, meliuk-liuk mwelewati pemain lawan san menjebol gawang lawan. Kegembiraan, kesenangan tiba-tiba berubah 1800 ketika tim lawan berhasil menjebol gawang tim nas atau tim persib. Teriak-teriak adalah gejala stres mulai melanda, marah-marah di depan televisi sendiri. Wah pokokna hampir lupa daratan. Namun menit-menit selanjutnya kadang-kadang berubah drastis berteriak-teriak kegirangan atau bertepuk tangan karena tim kesayangan berhasil menjebol gawang lawan. Ah, tapi itu hanyalah hiburan.

Itulah emosi-emosi yang bermunculan ketika seseorang nonton bola. Sungguh terasa aneh, mengapa bisa berperilaku seperti itu, mungkin hanya orang-orang pecinta bola saja yang bisa berpersaan seperti itu. Ego manusia yang selalu ingin menang, hubungan kedekatan kekerabatan ataupun karena satu daerah, satu golongan, atau apapun bisa menyebabkan seseorang mendukung satu tim kesayangannya.

Seringkali emosi meledak-ledak ketika saya mendukung tim kesayangan seperti timnas Indonesia apalagi Tim Persib Maung Bandung. Tetapi emosi itu hanya sesaat, saat itu saja, ketika pertandingan habis saya bisa menerima kekalahan dengan lapang dada apalagi bila tim kesayangan menang. Kemenangan tim Persib adalah suatu kebahagiaan, kebanggaan.

Sungguh, saya benci kepada pendukung yang tidak bisa menerima kekalahan. Mereka kadang-kadang tidak menerima kekalahan dengan melakukan kerusuhan, merusak dan membakar stadion, melempari wasit dan ofisial tim lawan, bahkan bak perang terbuka dengan pendukung lawan saling melempari batu, saling tusuk. Ah, sungguh perilaku barbar yang norak, urakan dan kampungan. Padahal bila menerima kekalahan dengan fair, tidak menerima kekalahan dengan merusak. Sungguh perilaku penonton yang terpuji. Saya kadang terkesan dengan perilaku penonton inggeris dalam liga-liga mereka. Walaupun tim kesayangan kalah tapi mereka tetap menerima kekalahan dengan lapang dada dan menghormati kemenangan tim lawan. Sungguh berbeda dengan pendukung Indonesia yang brutal.

Hm, kok jadi membahas penonton sih, habis kesel sih ngeliat penonton Indonesia yang kampungan yang suka tawuran. Sebaiknya setiap stadion di Indonesia punya Ring Tinju+sansak tinju. Jadi apabila penonton kesal karena tim kesayangannya kalah bisa melampiaskan kemarahannya di arena ring tinju dengan meninju-ninju sansak sepuasnya. Atau kalo gak penonton indonesia bisa nyalurin hobi rusuhnya dengan beralih profesi jadi petinju. Ikutan tuh lomba tinju. Bermanfaat dan berprestasi. Daripada melakukan anarkis yang merugikan.

Sebenarnya saya juga kadang kesal, marah jika nonton tim persib kalah. Tapi kemarahannya hanya sesaat itu saja, saat pertandingan saja. Kadang-kadang saya berteriak-teriak ngatain pemain gak becus. Makanya kalo nonton bola di rumah, saya suka sendirian. Berisik kata family saya. Bahkan keponakan saya yang masih imut umur 5 tahunan pernah bilang saya seperti kesurupan bila nonton pertandingan persib. Haha… padahal just have fun aja kok. Just entertainment. Kalo tim kesayangan seperti Persib ataupun Timnas Indonesia kalah, yah saya terima kekalahan dengan lapang dada. Itu artinya kemampuan tim kesayangan masih di bawah tim lawan ataupun belum beruntung. Tetapi bila tim persib menang. Hm, bahagia lho… wah pokok’e bahagia dech ga bisa dilukiskan kebahagiannyaa. Cie…

Wah, dag dig dug 2 x 45 menit yang sangat menghibur.

NB : tulisan dibuat setelah kesal ngeliat Tim Persib kalah 2-3 dari PSM makasar. Emosi yang fluktuatif terjadi ketika melihat Timnas Indonesia akhirnya bisa ngalahin Laos 3-1 walopun sempat tertinggal lebih duli 0-1 di babak pertama. Yah, cuman laos coba yang dikalahinnya Tim Brasil. Ajaib kallee…

Leave a comment »

Pilih Derajat Malaikat atau Hewan?

Bismillahirrahmanirrahiim

Maha Suci Alloh yang telah memberikan rahmat dan kasih sayangNya kepada mahluk di dunia ini tak terkecuali pada manusia. Manusia adalah mahluk yang cantik fisiknya dan sebaik-baik penciptaan, sebgaimana tersurat dalam kalam Al-Quran yang mulia di dalam Surat At-Tin:4 “Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk sebaik-baiknya”. Alloh juga mengkaruniai manusi berupa akal, hati nurani serta kelebihan-kelebihan lainnya dibandingkan mahluk lainnya. Oleh karenanya, manusia dijadikan khalifatu pil alrd (Pemimpin/pengelola di dunia). Kemuliaan manusia pun tercatat dalam firman lain di dalam Al-quran bagaimana Alloh menyuruh bersujud para malaikat kepada Adam. Ayat lain pun menegaskan kedudukan manusia dibanding mahluk lainnya “Dan sesungguhnya Kami telah memuliakan amak Adam(manusia) dan Kami angkut mereka di darat dan di laut, dan Kami melebihkan mereka atas mahluk-mahluk yang Kami ciptakan, dengan kelebihan yang menonjol” (Q.S Al-Isro 17:70).

Pada prinsipnya, malaikat juga adalah mahluk mulia. Namun jika manusia beriman dan taat kepada Alloh swt, manusia bisa melebihi kemuliaan para malaikat. Tetapi kemulian manusia bisa berada di level yang sama dengan hewan, bahkan lebih rendah daripada hewan jika kita berperilaku seperti hewan, yaitu menghalalkan segala cara untuk memenuhi kebutuhan perut dan syahwat biologisnya, saling menjegal, merampas, membunuh, tidak peduli dengan aturan dan larangan Alloh. Bukankah Alloh telah mengkaruniai kita akal dan nurani sebagai alat kontrol diri?

Acapkali kita melihat di televisi ataupun membaca di koran berita kriminal dimana ada seorang ibu dengan sadis membunuh bayi yang dilahirkan dari hasil hubungan gelapnya (zina). Ada yang hanya membuang, meninggalkan begitu saja bayinya di tempat sampah, ada yang membakar bahakan memotong-motong badan si bayi. (na’udzubillah). Sungguh, perilaku biadab, kezi yang dilakukan manusia. Dimana hati nurani mereka? Bukankah hewan saja tidak berperilaku sadis sperti itu? Hewan yang tidak mempunyai akal dan hati nurani, hewan yang tidak pernah mengenyam pendidikan moral begitu sayang terhadap anaknya, subhanallah… tapi lihatlah realita sekarang manusia begitu kejam terhadap sesamanya bahka terhadap anaknya sendiri pun begitu kejam.

Kekejaman dan keburukan manusia karena tidak adanya ketaqwaan dan keimanan manusia menyebabkan manusia berperilaku seperti hewan bahkan lebih buruk daripada hewan sekalipun. Sebaliknya, manusia lebih mulia daripada malaikat bila hidupnya di payungi oleh keimanan dan ketakwaan. Ketakwaan yang melahirkan budi pekerti dan ahlak yang mulia. So, manakah yang kita pilih? Menjadi manusia yang mulia melebihi derajat malaikat atau menjadi manusia yang rendah seperti hewan?

Wallohu A’lam
By Kenzi Al-Khalid
NB: Terinspirasi ketika melihat kasih sayang seekor hewan kepada anaknya, padhal hewan tersebut tidak pernah mengenal kasih sayang sang induk, tidak pernah mendapatkan pendidikan moral seperti manusia. Subhanalloh… Rahman Alloh itu pasti.

Leave a comment »

untuk sahabatku

Assalamu’alaikum.

Ini adalah surat yang ana sampaikan kepada saudara/sahabat seperjuangan. Walaupun beliau sekarang sudah berbeda ‘kendaraan’ pemikiran namun ada kewajiban bagi ana untuk saling mengingatkan dalam hal kebaikan, seperti yang tersurat dalam Q.S Al-Asr. Surat ini ana sampaikan kepada teman ana dan tidak bermaksud untuk membantah pemikiran-pemikiran beliau yang menyalahkan ana ikut dalam perjuangan syariat melalui partai. Sungguh, ana tidak merasa paling benar dan sungguh, ana sangat menghargai keputusan beliau melalui pergerakannya. Kita sama-sama memperjuangkan apa yang kita anggap sebuah kebenaran. Jadi hendaknya diantara kita tidak ada saling salah-menyalahkan, saling menghambat, namun sebisa mungkin kita saling berseinergi satu sama lain saling menguatkan. InsyaAlloh. Bagaimanapun, ini hanyalah sebuah diskusi pemikiran, yang insya Alloh sebuah diskusi sehat yang masih berada dalam koridor tanawwu (diperbolehkan) dalam islam. Insya Alloh. Berikut isi tulisan ana.

Akhifillah, dakwah di parlemen adalah sebuah ijtihad terhadap permasalahan kontemporer. Karena apa? Wilayah di parlemen dan pemerintahan sangat strategis sebagai pembuat kebijakan dimana kebijakan itu akan berpengaruh besar terhadap kehidupan kita. Tentunya Kebijakan yang kami perjuangkan adalah kebijakan yang diridhoi Allah dan melindungi hak-hak kaum muslimin indonesia. karena apa? Kebanyakan kebijakan yang ada sekarang merugikan dan membuat umat muslim Indonesia menderita, tersiksa, bahkan kehilangan hak-haknya walaupun kebanyakan orang-orang parlemen beragama islam, tapi karena sekuler, akhi sendiri tentu bisa menilai bagaimana pro tidaknya mereka terhadap islam.

Bayangkan akhi, bagaimana jadinya kalo umat ini meninggalkan wilayah yang di parlemen itu. So, relakah kita bila menyerahkan kebijakan urusan kita sendiri kepada mereka yang sekuler, phobia, bahkan benci terhadap umat islam. Relakah kita bila tiba-tiba berbagai kebijakan di parlemen sana akan menyudutkan dan memberangus kita umat islam? Misalkan, ada UU anti jilbab, UU penghapusan pelajaran agama di sekolah-sekolah dengan alasan SARA, apakah kita diam saja jika majelis taklim dan tabligh akbar dibubarkan polisi Detasemen 88 karena dilarang UU anti terorisme? Relakah kita jika masjid hanya jadi simbol belaka karena sholat dilarang, adzan dilarang, kajian-kajian islam dilarang, seminar-seminar keislaman dilarang dengan alasan membantu menyuburkan terosisme? relakah kita jika khamar dihalalkan oleh DPR/MPR? relakah kita jika pelacuran dan perjudian dilegalkan karena omzetnya yang besar untuk PAD? Relakah kita bila suatu saat media-media islam seperti Republika, SABILI, SAKSI, ANNIDA, UMMI, MQTV, MQFM ditutup dan dibredel? relakah kita bila suatu saat yayasan-yayasan seperti BAZ, Dompet Dhuafa Republika, Rumah Zakat, PKPU, DSUQ dll yang membantu kaum dhuafa dan yatim piatu ditutup pemerintah dengan alasan membantu orang-orang islam. Relakah kita jika orang-orang parlemen sana membuat UU yang akan menyulitkan kaum muslim? Apakah itu semua yang kita inginkan hanya karena tidak adanya orang-orang yang berjihad/berdakwah di parlemen? Af1, ana pikir, orang-orang yang berjihad parlemen sana insyaAlloh sebagai alat atau media penyeimbang bagi kekuatan sekuler, kapitalis nasrani bahkan zionis yahudi.

Contoh lain akhi, ketika dulu pembuat UU adalah orang2 sekuler dan anti terhadap islam, mereka melarang wanita islam untuk berjilbab sesuai tuntunan islam, namun lihatlah sekarang hasil perjuangan mereka yang berusaha merubah kebijakan di parlemen sana… sudah bisa kita lihat hasilnya sangat banyak perubahan yang bisa kita saksikan saat ini, hampir di sepanjang jalan, di sekolah-sekolah, di kantor-kantor, telah dipenuhi oleh kaum muslimah yang tampak anggun dan syar’i dengan gaun taqwanya.

Ya akhifillah…Di luar sana begitu banyak orang yang membenci islam. Dengan berbagai cara mereka menghasut, menuduh, memfitnah dan mengadu domba kita sesama islam. Mengapa kita saling menuduh, memfitnah, berantem sesama kaum ahlus sunnah wal jamah. Ketahuilah bila kita bercerai berai mudah bagi mereka kaum yahudi dan kafir untuk memerangi kita. Berbagai trik dan propaganda mereka luncurkan untuk melemahkan rukhiyah dan semangat jihad –red: bersungguh2 dalam menjalankan dien—kita umat islam. Berbagai siasat dan tipu muslihat mereka tiupkan kepada umat ini. Sehingga bila kita sudah lemah dan loyo mudah bagi mereka menggempur kita.

Akhifillah rahimukumullah, mari bagi-bagi tugas, yang di parlemen bejihadlah mengganti UU yang sekuler dengan UU yang sesuai syariah, yang guru berjihadlah menjadikan murid-muridnya pintar & jadikan mereka para jundullah, yang pedagang berjihadlah dengan berdagang yang jujur dan baik, yang mahasiswa berjuanglah dengan segenap kemampuan tenaga, pikiran menjadi motor dan agent of change para pemuda supaya lebih dekat kepada dien islam, yang LSM berjihadlah bantu msyarakat agar lebih dekat kepada Rabbnya. Seharusnya kita bisa saling bahu membahu mengantarkan negeri ini dan isinya kepada keridhoan Alloh, kekuatan kita saling bersinergi satu sama lain, saling menguatkan, dan bukanlah sikap saling menjatuhkan dan merendahkan. Anggota kami di parlemen, insya Alloh berjuang mencurahkan segala tenaga, pikiran, & perbuatan untuk mengimbangi kekuatan sekuler, nasrani & zionis di parlemen agar sebisa mungkin tidak ada UU yang melanggar hak kaum muslimin, bahkan kami berjuang agar peraturan-peraturan yang dibuat justru menyebabkan kemaslahatan bagi umat ini. Tetapi itu semua tidak mungkin akan terjadi bila kita semua umat muslim berpecah belah, tidak bersatu. Hasbiyallah wani’mal wakil ni’mal maula wani’man nasyir.. Dan tentunya hanyalah Alloh yang menjadi pelindung kita semua.

Sungguh, daulah adalah cita-cita besar umat ini. Namun harus diingat akhi, bahwa hanya dengan daulah/khilafah saja, tidak dengan sendirinya akan menjamin islam ini akan tegak. Tidak dengan sendirinya syariat islam terwujud. Melainkan melalui pemberian pemahaman islam yang sempurna kepada masyarakat, dan melalui pembentukan kepribadian islam terhadap umat, serta pembinaan.tarbiyah yang continue yang dapat menegakkan umat islam ini, sehingga umat ini akan memiliki pondasi-pondasi iman yang kokoh/tsabat. Karena proses tarbiyah ini waktunya tidak tergantung apakah sebelum berdirinya daulah atau pasca berdirinya daulah. Tetapi dari sekarang, mulai saat ini, dari diri sendiri, mulai dari hal yang kecil, berefek kepada keluarga, keluarga-keluarga yang soleh akan menimbulkan efek positif terhadap masyarakat.

Akhi, jika antum menyalahkan kami karena kami ada di wilayah parlemen yang bersinggungan dengan produk-produk hukum manusia. Yang menurut antum, kami telah mencampur adukkan kebenaran dengan kebatilan. Ana katakan itu adalah resiko. Tapi bukankah ana telah tegaskan sebelumnya bahwa jikalau kita merelakan posisi-posisi itu diisi oleh musuh-musuh kita karena kita meninggalkan parlemen, maka mereka musuh-musuh Alloh akan dengan seenaknya menggunakan UU itu untuk menghancurkan kita. Ana yakinkan, bahwa kita di parlemen adalah sebagai counter/penyeimbang bagi kekeuatan musuh kita.

Akhi, bukankah ibadah terdiri dari dua macam, ibadah maghdoh dan ibadah umum (ghoiru maghdah). Ibadah maghdoh seperti shalat, puasa haji dll mutlak harus sesuai kaidah rasul saw. Sedangkan ibadah umum adalah aktifitas kita yang karena lillahi ta’ala. Contoh makan dengan berdoa terlebih dahulu, menafkahi keluarga, belajar, berolahraga, berdakwah, berdakwah via parlemen (atau berorganisasi apa saja). Berdakwah bisa lewat apa saja tidak harus seperti tabligh akbar atau ceramah jumat. Berdakwah bisa lewat pengembangan institusi pesantren, bisa lewat radio, televisi, media koran, buku-buku, novel islami, cerpen islami, internet, handphone dsb. Bila berdakwah via parlemen dianggap tidak nyunnah, maka setiap kita berdakwah via media massa, televisi, atau pun novel, maka dianggap tidak nyunnah Rosul saw. Ketahuilah, partai hanyalah sebuah alat atau wasilah untuk memaksimalkan perjuangan. Bisa saja suatu saat untuk memperjuangkan Hukum Allah di Indonesia metodenya berganti menjadi bukan partai, semuanya tergantung kondisi yang ada. Dan berpartai pun adalah termasuk ibadah ammah/umum karena wilayahnya adalah wilayah muamalah bukan ibadah maghdoh. insyaAlloh.

Oh iya, antum pun pernah bilang bahwa Rosul pun tidak pernah mendirikan partai. Ana katakan, memang iya tapi bukankah zaman semakin berkembang, tentunya bermunculan masalah-masalah kontemporer yang memerlukan ijtihad-ijtihad para ulama untuk menanggulangi masalah kontemporer itu. Oya, antum pun pernah bilang tentang penolakan Rosul saw mengenai harta atau kekuasaan. Memang benar Rosul saw menolak kekuasaan, tapi tahukah dibalik penawaran kafir Quraisy itu? Harganya adalah Rosul saw harus BERHENTI dari dakwah. Sehingga dalam suatu riwayat dikatakan bahwa Rosul saw sampai bersabda: “Andai mereka (kaum kafir Quraisy) meletakkan matahari di tangan kananku dan meletakkan rembulan di tangan kiriku. Aku(rosul) tak akan pernah berhenti dari dakwah ini, lebih baik ajal menjelang dan mati syahid di jalan Alloh dibandingkan saya harus berhenti berdakwah”. Imbalan atas harta atau kekuasaan itu terlalu mahal, sebab yang mereka tuntut adalah berhenti dari dakwah. Di masa kini, ketika partai islam berupaya masuk parlemen, tidak ada konsekuensi untuk berhenti dakwah. Tidak, kita tidak boleh berhenti berdakwah. Never Give Up!

Akhifillah, sekali lagi ana bilang bahwa ikhwan gabung di parlemen hanyalah sebuah ijtihad bagi permasalahan kontemporer. Bila ini suatu kesalahan, maka kesalahan ini adalah dari kami (hamba Alloh) semata. Tapi bila ini sebuah kebenaran, maka ketahuilah kebenaran ini hanyalah pertolongan Alloh semata. Ketahuilah, ini hanyalah pendapat ana yang lemah dan bodoh “Innahu kana dhuluman zahula ” sesungguhnya manusia itu zalim dan bodoh”.

“Ya Tuhan Kami, sesungguhnya kami mendengar (seruan) yang menyeru kepada iman, (yaitu). “Berimanlah kamu kepada Tuhanmu”, maka kamipun beriman. Ya Tuhan kami, ampunilah bagi kami dosa-dosa kami dan hapuskanlah dari kami kesalahan-kesalahan kami, dan wafatkanlah kami beserta orang-orang yang banyak berbakti” (QS Ali Imran:193)
wallahu a’lam bishawab

Al Fakir Ilallah.

Kenzi Al-Khalid

Leave a comment »

Untuk Yang Tersia-sia Malamnya

Bismillahirrahmanirrahim

“Lihatlah hari ini, sebab ia adalah kehidupan,kehidupan dari kehidupan.Dalam sekejap dia telah melahirkan berbagai hakikat dari wujudmu. Nikmatpertumbuhan. Pekerjaan yg indah. Indahnya kemenangan. Karena hari kemarin

tak lebih dari sebuah mimpi. Dan esok hari hanyalah bayangan. Namun hari ini ketika anda hidup sempurna telah membuat hari kemarin sebagai impian yg indah. Setiap hari esok adalah bayangan yg penuh harapan. Maka lihatlah hari ini”. (Kalidasa)

Wahai orang-orang yang terpejam matanya, Perkenankanlah kami, manusia-manusia malam menuliskan sebuah surat cinta kepadamu. Seperti halnya cinta kami pada waktu malam-malam yang kami rajut di sepertiga terakhir. Atau seperti cinta kami pada keagungan dan rahasianya yang penuh pesona. Kami tahu dirimu bersusah payah lepas tengah hari berharap intan dan mutiara dunia. Namun kami tak perlu bersusah payah, sebab malam-malam kami berhiaskan intan dan mutiara dari surga.

Wahai orang-orang yang terlelap, Sungguh nikmat malam-malammu. Gelapnya yang pekat membuat matamu tak mampu melihat energi cahaya yang tersembunyi di baliknya. Sunyi senyapnya membuat dirimu hanyut tak menghiraukan seruan cinta. Dinginnya yang merasuk semakin membuat dirimu terlena,menikmati tidurmu di atas pembaringan yang empuk, bermesraan dengan bantal dan gulingmu, bergeliat manja di balik selimutmu yang demikian hangatnya. Aduhai kau sangat menikmatinya.

Wahai orang-orang yang terlena,Ketahuilah, kami tidak seperti dirimu!!
Yang setiap malam terpejam matanya, yang terlelap pulas tak terkira. Atau yang terlena oleh suasananya yang begitu menggoda. Kami tidak seperti dirimu !! Kami adalah para perindu kamar di surga. Tak pernahkah kau dengar Sang Insan Kamil, Rasulullah SAW bersabda : “Sesungguhnya di surga itu ada kamar yang sisi luarnya terlihat dari dalam dan sisi dalamnya terlihat dari luar. Disediakan untuk mereka yang memberi makan orang-orang yang memerlukannya, menyebarkan salam serta mendirikan sholat pada saat manusia terlelap dalam tidur malam.” Sudahkah kau dengar tadi ? Ya, sebuah kamar yang menakjubkan untuk kami dan orang-orang yang mendirikan sholat pada saat manusia-manusia yang lain tertutup mata dan hatinya.

Wahai orang-orang yang keluarganya hampa cinta, Kau pasti pernah mendengar namaku disebut. Aku Abu Hurairah, Periwayat Hadist. Kerinduanku akan sepertiga malam adalah hal yang tak terperi. Penghujung malam adalah kenikmatanku terbesar. Tapi tahukah kau ? Kenikmatan itu tidak serta merta kukecap sendiri. Kubagi malam-malamku yang penuh syahdu itu menjadi tiga. Satu untukku, satu untuk istriku tercinta dan satu lagi untuk pelayan yang aku kasihi. Jika salah satu dari kami selesai mendirikan sholat, maka kami bersegera membangunkan yang lain untuk menikmati bagiannya. Subhanallah, tak tergerakkah dirimu ? Pedulikah kau pada keluargamu ? Adakah kebaikan yang kau inginkan dari mereka ? Sekedar untuk membangunkan orang-orang yang paling dekat denganmu, keluargamu ?

Lain lagi dengan aku, Nuruddin Mahmud Zanki. Sejarah mencatatku sebagai Sang Penakluk kesombongan pasukan salib. Suatu kali seorang ulama tersohor Ibnu Katsir mengomentari diriku, katanya, ” Nuruddin itu kecanduan sholat malam, banyak berpuasa dan berjihad dengan akidah yang benar.” Kemenangan demi kemenangan aku raih bersama pasukanku. Bahkan pasukan musuh itu terlibat dalam sebuah perbincangan seru. Kata mereka, ” Nuruddin Mahmud Zanki menang bukan karena pasukannya yang banyak. Tetapi lebih karena dia mempunyai rahasia bersama Tuhan”. Aku tersenyum, mereka memang benar. Kemenangan yang kuraih adalah karena do’a dan sholat-sholat malamku yang penuh kekhusyu’an. Tahukah kau dengan orang yang selalu setia mendampingiku ? Dialah Istriku tercinta, Khotun binti Atabik. Dia adalah istri shalehah di mataku, terlebih di mata Alloh. Malam-malam kami adalah malam penuh kemesraan dalam bingkai Tuhan.

Gemerisik dedaunan dan desahan angin seakan menjadi pernak-pernik kami
saat mendung di mata kami jatuh berderai dalam sujud kami yg panjang.
Kuceritakan padamu suatu hari ada kejadian yang membuat belahan jiwaku itu tampak murung. Kutanyakan padanya apa gerangan yang membuatnya resah. Ya Alloh, ternyata dia tertidur, tidak bangun pada malam itu, sehingga kehilangan kesempatan untuk beribadah. Astaghfirulloh, aku menyesal telah membuat dia kecewa. Segera setelah peristiwa itu kubayar saja penyesalanku dengan mengangkat seorang pegawai khusus untuknya. Pegawai itu kuperintahkan untuk menabuh genderang agar kami terbangun di sepertiga malamnya.

Wahai orang-orang yang terbuai, Kau pasti mengenalku dalam kisah
pembebasan Al Aqso, rumah Allah yang diberkati. Akulah pengukir tinta emas itu, seorang Panglima Perang, Sholahuddin Al-Ayyubi. Orang-orang yang hidup di zamanku mengenalku tak lebih dari seorang Panglima yang selalu menjaga sholat berjama’ah. Kesenanganku adalah mendengarkan bacaan Alqur’an yang indah dan syahdu. Malam-malamku adalah saat yang paling kutunggu. Saat-saat dimana aku bercengkerama dengan Tuhanku. Sedangkan siang hariku adalah perjuangan-perjuangan nyata, pengejawantahan cintaku pada-Nya.

Wahai orang-orang yang masih saja terlena, Pernahkah kau mendengar kisah penaklukan Konstantinopel ? Akulah orang dibalik penaklukan itu, Sultan Muhammad Al Fatih. Aku sangat lihai dalam memimpin bala tentaraku. Namun tahukah kau bahwa sehari sebelum penaklukan itu, aku telah memerintahkan kepada pasukanku untuk berpuasa pada siang harinya. Dan saat malam tiba, kami laksanakan sholat malam dan munajat penuh harap akan pertolongan-Nya. Jika Alloh memberikan kematian kepada kami pada siang hari disaat kami berjuang, maka kesyahidan itulah harapan kami terbesar. Biarlah siang hari kami berada di ujung kematian, namun sebelum itu, di ujung malamnya Alloh temukan kami berada dalam kehidupan. Kehidupan dengan menghidupi malam kami.

Wahai orang-orang yang gelap mata dan hatinya, Pernahkah kau dengar kisah Penduduk Basrah yang kekeringan ? Mereka sangat merindukan air yang keluar dari celah-celah awan. Sebab terik matahari terasa sangat menyengat,padang pasir pun semakin kering dan tandus. Suatu hari mereka sepakat untuk mengadakan Sholat Istisqo yang langsung dipimpin oleh seorang ulama di masa itu. Ada wajah-wajah besar yang turut serta di sana, Malik bin Dinar, Atho’ As-Sulami, Tsabit Al-Bunani. Sholat dimulai, dua rakaat pun usai. Harapan terbesar mereka adalah hujan-hujan yang penuh berkah. Namun waktu terus beranjak siang, matahari kian meninggi, tak ada tanda-tanda hujan akan turun. Mendung tak datang, langit membisu, tetap cerah dan biru. Dalam hati mereka bertanya-tanya, adakah dosa-dosa yang kami lakukan sehingga air hujan itu tertahan di langit ? Padahal kami semua adalah orang-orang terbaik di negeri ini ? Sholat demi sholat Istisqo didirikan, namun hujan tak kunjung datang.

Hingga suatu malam, Malik bin Dinar dan Tsabit Al Bunani terjaga di sebuah masjid. Saat malam itulah, aku, Maimun, seorang pelayan, berwajah kuyu, berkulit hitam dan berpakaian usang, datang ke masjid itu. Langkahku menuju mihrab, kuniatkan untuk sholat Istisqo sendirian, dua orang terpandang itu mengamati gerak gerikku. Setelah sholat, dengan penuh kekhusyu’an kutengadahkan tanganku ke langit, seraya berdo’a : “Tuhanku, betapa banyak hamba-hamba-Mu yang berkali-kali datang kepada-Mu memohon sesuatu yang sebenarnya tidak mengurangi sedikitpun kekuasaan-Mu. Apakah ini karena apa yang ada pada-Mu sudah habis ? Ataukah perbendaharaan kekuasaan-Mu telah hilang ? Tuhanku, aku bersumpah atas nama-Mu dengan kecintaan-Mu kepadaku agar Engkau berkenan memberi kami hujan secepatnya.”
Lalu apa gerangan yang terjadi ? Angin langsung datang bergemuruh dengan cepat, mendung tebal di atas langit. Langit seakan runtuh mendengar do’a seorang pelayan ini. Do’aku dikabulkan oleh Tuhan, hujan turun dengan derasnya, membasahi bumi yang tandus yang sudah lama merindukannya.

Malik bin Dinar dan Tsabit Al Bunani pun terheran-heran dan kau pasti juga heran bukan ? Aku, seorang budak miskin harta, yang hitam pekat, mungkin lebih pekat dari malam-malam yang kulalui. Hanya manusia biasa, tapi aku menjadi sangat luar biasa karena doaku yang makbul dan malam-malam yang kupenuhi dengan tangisan dan taqarrub pada-Nya.

Wahai orang-orang yang masih saja terpejam, Penghujung malam adalah
detik-detik termahal bagiku, Imam Nawawi. Suatu hari muridku menanyakan kepadaku, bagaimana aku bisa menciptakan berbagai karya yang banyak ?
Kapan aku beristirahat, bagaimana aku mengatur tidurku ? Lalu kujelaskan padanya, “Jika aku mengantuk, maka aku hentikan sholatku dan aku bersandar pada buku-bukuku sejenak. Selang beberapa waktu jika telah segar kembali, aku lanjutkan ibadahku.” Aku tahu kau pasti berpikir bahwa hal ini sangat sulit dijangkau oleh akal sehatmu. Tapi lihatlah, aku telah melakukannya, dan sekarang kau bisa menikmati karya-karyaku.

Wahai orang-orang yang tergoda, Begitu kuatkah syetan mengikat tengkuk
lehermu saat kau tertidur pulas ? Ya, sangat kuat, tiga ikatan di tengkuk lehermu !! Dia lalu menepuk setiap ikatan itu sambil berkata, “Hai manusia, Engkau masih punya malam panjang, karena itu tidurlah !!”. Hei, Sadarlah, sadarlah, jangan kau dengarkan dia, itu tipu muslihatnya ! Syetan itu berbohong kepadamu. Maka bangunlah, bangkitlah, kerahkan kekuatanmu untuk menangkal godaannya. Sebutlah nama Alloh, maka akan lepas ikatan yang pertama. Kemudian, berwudhulah, maka akan lepas ikatan yang kedua. Dan yang terakhir, sholatlah, sholat seperti kami, maka akan lepaslah semua ikatan-ikatan itu.

Wahai orang-orang yang masih terlelap, Masihkah kau menikmati
malam-malammu dengan kepulasan ? Masihkah ? Adakah tergerak hatimu untuk bangkit, bersegera, mendekat kepada-Nya, bercengkerama dengan-Nya, memohon keampunan-Nya, meski hanya 2 rakaat ? Tidakkah kau tahu, bahwa Alloh turun ke langit bumi pada 1/3 malam yang pertama telah berlalu. Tidakkah kau tahu, bahwa Dia berkata, “Akulah Raja, Akulah Raja, siapa yang memohon kepada-Ku akan Kukabulkan, siapa yang meminta kepada-Ku akan Kuberi, dan siapa yang memohon ampun kepada-Ku akan Ku ampuni. Dia terus berkata demikian, hingga fajar merekah.

Wahai orang-orang yang terbujuk rayu dunia, Bagi kami, manusia-manusia
malam, dunia ini sungguh tak ada artinya. Malamlah yang memberi kami
kehidupan sesungguhnya. Sebab malam bagi kami adalah malam-malam yang
penuh cinta, sarat makna. Masihkah kau terlelap ? Apakah kau menginginkan kehidupan sesungguhnya ? Maka ikutilah jejak kami, manusia-manusia malam. Kelak kau akan temukan cahaya di sana, di waktu sepertiga malam. Namun jika kau masih ingin terlelap, menikmati tidurmu di atas pembaringan yang empuk, bermesraan dengan bantal dan gulingmu, bergeliat manja di balik selimutmu yang demikian hangatnya, maka surat cinta kami ini sungguh tak berarti apa-apa bagimu. Semoga Alloh mempertemukan kita di sana, di surga-Nya, mendapati dirimu dan diri kami dalam kamar-kamar yang sisi luarnya terlihat dari dalam dan sisi dalamnya terlihat dari luar.
Semoga…

(Manusia-Manusia Malam)

(sumber : ratna.wordpress.com )

Leave a comment »

komputer ngadat

Wah lega dech rasanya. Dari semenjak pagi saya BT (bukan butuh tausyiah lho..) tapi memang bener-bener BT (bad temperament) bahasa anak gaulnya. Ciee.. Gimana tidak, pas pagi hari itu ketika menghidupkan my computer, tertulis di monitor bahwa driver sound card ana terhapus atawa hilang dari program software computer. Wuah…wuah…:( serasa langit mendung, guntur menggelegar, awan menghitam menutupi langit biru, angin menghembus kuat pertanda akan turun hujan yang lebat(*he he bo’ong deng, itu tandanya ana sedih) hiks hiks… Iya tuh, ketika sadar bahwa driver soundcard ana hilang berarti program-program multimedia gak bisa bunyi, gak ada suaranya. Itu artinya ana gak bisa denger winamp/mp3. wuah…wuah… (*pura-pura nangis*). Sedih kan kalo maen komputer gak bisa denger mp3-nya. Kagak seru euy! Ibarat makan sayur tanpa garam = tidak enak/hambar.

Secepat kilat ana langsung matiin komputer, trus sejurus kemudian ana langsung nyari-nyari dech driver-driver yang ada di tumpukan CD. Alhamdulillah… tidak berhasil ditemukan (kebayang makin merengut aja muka ana, untung aja kagak ada paparazi, sehingga mereka tidak mengabadikan wajah saya yang muram waktu itu, jadi wajah saya yang imut ini masih tetap orisinil dalam file-file foto mereka. Hahaha…).

Kembali ke.. Laptop…! (niruin gaya mas Tukul di acara 4 mata).
Yah… nyerah dech.. berarti ana hari ini, dan hari-hari berikutnya kagak bakalan dengerin mp3 nasyid nih, gak bisa dengerin SP, izzis, shou-har, hijjaz, dll. Sedih euy… kurang lebih begitulah kesimpulan ana pagi itu.

Pas siang ana beraktifitas seperti biasa, sempet hilang sih suasana BT-nya. Tapi ketika kembali pulang ke rumah dan liat komputer. Hm, jadi BT lagi dach. “Duh.. gimana yah?” Ana mikir-mikir. Hmm masak harus instal ulang nih komputer. Kalo diinstal ulang banyak data yang ilang dunks.

Setelah beberapa menit nyari gak ketemu-ketemu tuh driver (bukan driver supir nih). Akhirnya ana inget juga, drivernya kalo ga salah ana simpen di lemari. Sejurus kemudian ana nyari itu driver di lemari. Ealah… alhamdulillah akhirnya ketemu juga. Duh senengnya.. serasa ketemu dengan seorang kekasih yang lama tak bersua. Hehe.. Tanpa pikir panjang langsung ana instal lagi tuh driver soundcard. Hm… olala.. akhirnya komputer ana bisa ‘bernyanyi’ lagi. Alhamdulillah makasih ya Alloh.. kirain drivernya hilang. Kalo hilang gaswat juga. Bisa-bisa seumur hidup bisu tuh komputer.

Makanya Gum, nyimpen CD program kudu bener jangan ditaro sembarangan. Ok deh.. lain kali ana nyimpen di tempat yang aman.

Wallahu a’lam

Leave a comment »

ESOK GILIRAN KITA?

Bila Izrail datang memanggil
Jasad terbujur di pembaringan
Seluruh tubuh akan menggigil
Sekujur badan nan kedinginan
Tiada lagi gunanya harta, kawan, karib sanak saudara
Jikalah ada amal di dunia itulah hanya pembela kita
Janganlah mau disanjung-sanjung
Engkau digelar manusia agung
Sedarlah diri tau diuntung
Sebelum masa keranda diusung
Datang masanya insyaflah diri
Selimut putih pembalut badan
Tinggal semua yang dikasihi
Berjuanglah hidup sepanjang zaman

Sengaja saya menukilkan lirik hijaz yang berjudul selimut putih. Sebagai bahan renungan bahwa masalah hidup seseorang tidak ada yang tahu pasti. Kita tidak tahu kapan malaikat maut akan mencabut nyawa kita. Apakah kita akan wafat dalam keadaan beriman kepada Allah atau dalam keadaan ingkar kepada Allah swt.

Setelah mendengar tiga berita duka berurutan. Yang pertama berita meninggalnya orang yang sudah saya anggap nenek karena beliaulah yang mengasuh saya waktu kecil. Yang kedua berita meninggalnya salah satu family saya di Garut, dan yang ketiga meninggalnya tetangga saya, padahal kalau melihat usia, tetangga saya itu masih cukup muda. Tiga berita duka itu cukup membuat hati ini sepertinya terpaksa diingatkan bahwa kematian kapanpun, dimanapun siap menjemput. Tiba-tiba menyeruak dalam hati berbagai pertanyaan kepada diri sendiri. Sudah siapkah bila diri ini dijemput kembali ke hadirat Ilahi Rabbi? Bisakah saya menjawab pertanyaan-pertanyaan Malaikat di alam kubur? Amal apakah yang akan menemani saya ketika di alam kubur yang sempit dan gelap?

Berbagai pertanyaan pun bermunculan dalam hati, apakah diri ini sudah siap bila tiba-tiba dipanggil oleh Allah swt. Jawabannya pasti belum siap! Pertanyaan itu menggiring saya untuk menerima kesadaran sementara. Saya mengatakan ‘kesadaran sementara’ karena ‘kesadaran’ ini sifatnya sementara, bisa jadi dua atau tiga jam lagi saya sudah lupa tentang ‘kesadaran’ ini.

Sebelum diri ini mengalami hisab atau pengadilan akhirat, alangkah bijaknya bila kita mencoba bermuhasabah diri, menghisab diri kita sendiri. Apakah jiwa, pendengaran, penglihatan dan hati kita lebih banyak digunakan untuk melakukan maksiat daripada digunakan untuk mencapai keridhoanNya. Karena bukankah semuanya yang ada pada diri kita adalah titipan dari Allah swt, sebagai cobaan apakah kita akan menggunakannya untuk kebaikan atau keburukan.

Kematian itu pasti terjadi. Ada saat dimana mata yang digunakan untuk melihat ini akan menutup selama-lamanya. Akan ada saat dimana jantung kita yang terus berdenyut ini akan berhenti. Akan ada suatu masa dimana mulut ini tidak bisa lagi mengucapkan takbir, tahmid, tahlil dan tasbih. Akan ada suatu masa dimana mulut ini tidak akan bisa lagi membaca ayat-ayat Al-qur’an.

Hai diri, hisablah dirimu sendiri sebelum dihisab oleh Rabb mu. Bukankah akan ada suatu masa dimana kening ini tidak bisa lagi bersujud (sholat). Bukankah akan ada suatu masa dimana tanganmu tidak bisa lagi melakukan kebaikan memberi orang-orang fakir. Dan bukankah akan ada suatu masa dimana kakimu tidak bisa digunakan untuk berdiri (sholat) atau digunakan untuk melangkah ke mesjid atau majelis ta’lim. Lalu mengapa kita menyia-nyiakan kesempatan yang telah diberikan Allah swt.

Hai diri, ingatlah! Ketika nyawa telah tercabut dari jasadmu, tidak akan ada lagi kesempatan untuk bertaubat, tidak akan ada lagi kesempatan untuk berbuat amal soleh. Ketika diri telah terbujur kaku, dimandikan oleh sanak saudara, disholatkan, dibungkus oleh dua helai kain putih. Ya, kain kafan. Bukan dengan bajumu yang mahal. Kemudian mayat yang tak berdaya itu diusung dengan keranda menuju pembaringan terakhir. Sebuah lubang yang akan menjadi tempatmu bersemayam, ukurannya tidak lebih dari 2 x 1 meter. Tempat yang lembab, gelap. Rumahmu yang terakhir adalah kuburan bukan rumah mewah atau apartemen yang sering kau banggakan. Apakah hartamu yang banyak itu ikut menemanimi di alam barzakh? Tidak! Lalu siapakah yang paling setia menemanimu di alam kubur itu? Apakah istrimu yang setia ikut menemanimu? Apakah hartamu? Semua tidak ada yang setia kecuali amal solehmu.

Saya tidak sanggup lagi meneruskan kalimat-kalimat selanjutnya. Semakin saya mengetik malah semakin takut diri ini. Bukan! Bukan takut akan mati, tapi takut apakah diri ini mampu menjawab pertanyaan-pertanyaan malaikat. Takut bila amal soleh yang tak seberapa ini tidak sanggup membela saya di alam kubur. Jadi, mulai saat ini mari kita menabung amal soleh agar mendapatkan yang terbaik setelah kita meninggalkan dunia yang fana ini. Mendapatkan yang terbaik setelah kita meninggal, berjumpa dengan Rabb, mendapat Ridho dan surgaNya yang kekal.

Wallahu a’lam bisshawab

NB : Mengingat kematian adalah satu bahan bakar ghiroh beramal agar tetap menyala tidak padam disiram oleh kemalasan/futur

Leave a comment »

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.